PERKEMBANGAN BISNIS RITEL MODERN

Posted: December 9, 2012 in Uncategorized
PERKEMBANGAN BISNIS RITEL MODERN
 
Pada 2009 satu lagi ritel asing yaitu Grup Lotte dari Korea Selatan masuk ke Indonesia, dengan mengakuisisi Makro yang sebelumnya dimiliki oleh SHV Holding dari Belanda senilai US$ 223 juta. Setelah diakuisisi kini Makro berubah menjadi Lotte Mart. Grup Lotte manjalankan bisnis ritel sejak 1979, mengoperasikan lebih dari 90 gerai di berbagai negara diantaranya Cina, Rusia, Vietnam, dan India.
 
Peta persaingan ritel semakin ketat, setelah 40% saham Carrefour yang merupakan leader hypermarket diakuisisi oleh CT Corporation anak perusahaan Grup Para dengan nilai sekitar US$ 350 juta pada 2010. Grup Para milik Chairul Tanjung, seorang pengusaha lokal yang lebih dulu sudah menguasai bisnis televisi, perbankan, asuransi, pembiayaan dan sebagainya.     
 
Dalam lima tahun terakhir peningkatan omset ritel modern cukup pesat, hal ini juga didukung oleh pertumbuhan jumlah ritel yang pesat yaitu mencapai 18.152 gerai pada 2011, dibandingkan 10.365 gerai pada 2007. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10-15% per tahun. Penjualan ritel pada 2006 masih sebesar Rp 49 triliun, namun melesat hingga mencapai Rp 100 triliun pada 2010. Sedangkan pada 2011 pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama yaitu 10%-15% atau mencapai Rp 110 triliun, menyusul kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat yang relatif bagus. Jumlah pendapatan terbesar merupakan konstribusi dari hypermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket. 
 
Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Dalam sepuluh tahun terakhir bisnis ritel modern dengan format hypermarket, supermarket dan minimarket menjamur, menyusul maraknya pembangunan mall atau pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Peritel besar seperti hypermarket dan department store menjadi anchor tenant yang dapat menarik minat pengunjung. Bahkan kini bisnis ritel mulai merambah ke kota-kota kabupaten terutama jenis supermarket dan minimarket. Saat ini bisnis ritel tumbuh pesat di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. 
 
Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi Penanaman Modal Asing (PMA), maka sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke Indonesia.  Masuknya ritel asing dalam bisnis ini, menunjukkan bisnis ini sangat menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hypermarket asing yang semakin ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal. Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta saja, misalnya Carrefour dalam lima tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta termasuk ke Yogyakarta, Surabaya, Palembang dan Makassar. Namun saat ini di wilayah DKI pemberian izin minimarket diperketat karena sudah terlalu banyak. 
 
Keadaan ini mendorong peritel lokal yang sudah lebih dulu menguasai pasar, misalnya Matahari Group yang sebelumnya kuat pada bisnis department store, mengembangkan usahanya memasuki bisnis hypermarket. Demikian juga Hero yang sebelumnya kuat dalam bisnis supermarket, akhirnya ikut bersaing dalam bisnis hypermarket. Bahkan Hero mengubah sejumlah gerai supermarketnya menjadi format hypermarket. 
 
Hingga saat ini, pangsa pasar modern mencapai 30%, sedangkan pasar tradisional menguasai sekitar 70%. Hal ini menunjukkan peluang bisnis ritel (pasar modern) cukup menjanjikan, setiap tahun selalu muncul dan berdiri gerai baru ritel di kota-kota besar. Saat ini pengusah ritel mulai melebarkan sayap diluar pulau Jawa seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku.  Sementara itu, peritel besar seperti Carrefour dan Giant memiliki pasar ritel lebih luas dibandingkan competitor lain, sebab selain bermain di segmen hypermarket, kedua peritel ini juga bersaing di segmen supermarket. 
 
Dengan membaiknya ekonomi Indonesia ditahun mendatang diperkirakan akan semakin banyak peritel asing masuk ke Indoneisa, demikian juga pemain lama menjadi semakin ekspansif menggarap setiap potensi pasar yang ada. Akibatnya persaingan akan semakin ketat menyebabkan semua pemain berusaha keras menjalankan berbagai strategi untuk mengalahkan persaingan yang kadang menjadi tidak fair lagi. 
 
Struktur bisnis pasar modern
 
Bisnis ritel telah menjadi bisnis global dan Indonesia tidak terhindarkan dari serbuan ritel asing. Dengan kekuatan yang besar dari segi keuangan, manajemen, maupun jaringannya ritel modern raksasa masuk ke Indonesia.  Maka terjadi  perubahan peta bisnis yang cukup signifikan dalam lima  terakhir akibat jatuh bangunnya bisnis ritel. 
 
Serbuan ritel modern di Indonesia bukan kali ini terjadi, setiap dekade muncul format baru ritel modern yang menggeser ritel tradisional. Ketika diawal tahun 1980’an supermarket mewah mulai menyerbu Jakarta, maka pasar tradisionil seperti pasar Cikini, pasar Santa dan pasar lain yang melayani penduduk menengah atas di pusat kota Jakarta mulai kehilangan pamor 
 
Penyebaran supermarket yang gencar di awal tahun 1990’an mulai mempersempit ruang gerak pasar dan ritel tradisionil. Pada waktu itu diberbagai kawasan pemukiman di Jabotabek dan kota besar lainnya di P. Jawa supermarket mulai menjamur.
Memasuki pertengahan tahun 1990’an supermarket mulai mendapat saingan dari hypermarket dengan munculnya Makro (sekarang bernama Lotte Mart). Format pasar modern yang ditawarkan oleh Lotte Mart berbeda dengan supermarket terutama dari luas dan produk yang ditawarkan,sedangkan dari segi pelayanan format hypermarket sangat berbeda dengan supermarket karena pada Lotte Mart pelayanan dibuat seminim mungkin untuk mengejar harga yang murah. 
 
Bersamaan dengan itu mulai berkembang supermarket skala kecil yaitu format minimarket yang mampu bersaing dengan format supermarket. Kedua format pasar modern ini  sama-sama mempunyai jaringan yang kuat sehingga minimarket dapat menawarkan harga yang bersaing dengan supermarket dan kenyaman yang sama bahkan minimarket bisa  berada lebih dekat  dengan lokasi pelanggannya.
 
Dari kelompok minimarket ini jaringan Indomaret dan Alfa mulai merajai segmen pasar dari ritel bisnis ini. Hanya dalam waktu yang relatif singkat jumlah gerai kedua jaringan minimart ini telah menggurita. 
 
Namun serangan yang hebat terhadap keberadaan supermarket adalah ketika masuknya format baru yaitu hypermarket yang dikembangkan oleh  Carrefour dari Perancis. Dengan skala gerainya yang jauh lebih besar, demikian juga pilihan item  jauh lebih beraneka ragam, ditambah dengan harga yang relatif lebih murah dari supermarket, maka posisi supermarket mulai tergeser. Apalagi  hypermarket tersebut berada dilokasi yang sangat strategis dipusat bisnis dan pusat pemukiman kalangan menengah atas yang menjadi target pasar dari supermarket selama ini.
 
Akibat serangan dari format ritel seperti hypermarket dan minimarket, maka kelompok Hero yang sebelumnya merajai bisnis supermarket mulai terdesak dan untuk bisa bertahan menghadapi persaingan itu, kelompok ini mulai mengembangkan jaringan hypermarketnya menggandeng jaringan ritel Giant Retail Sdn Bhd dari Malaysia. Menyadari Jakarta sudah padat ditempati Carrefour maka Giant menempatkan pijakan awalnya  di kota Surabaya dan di Tangerang yang belum dimasuki hypermarket lainnya. Selain itu kelompok Hero juga membangun jaringan minimarketnya melalui jaringan ritel Starmart. 
 
Tidak semua jaringan supermarket mampu bertahan. Misalnya jaringan supermarket Tops milik jaringan ritel Aholds dari Belgia yang banyak beroperasi di daerah Jawa Barat  akhirnya diakuisi oleh kelompok Hero. 
 
Format bisnis 
 
Ritel modern memiliki banyak format yang berkembang sesuai dengan situasi pasar di dalam negeri maupun sebagai dampak perubahan pasar di dunia. Format ritel modern ini masih terus berkembang setiap saat masih selalu terjadi perubahan. Di Indonesia format ritel belum diatur secara baku, atau kadang kala peraturan yang ada pun tidak mencerminkan keadaan bisnis ritel yang ada. 
 
Secara umum format bisnis ritel yang saat ini berkembang pesat di Indonesia adalah hypermarket, supermarket, minimarket atau convenience store , departemen store, dan specialty store.  
 
Hypermarket, supermarket, dan minimarket pada dasarnya perkembangan dari toko kelontong  dan pasar tradisionil, sehingga kemudian ritel modern ini sering diberi istilah pasar modern. Perbedaan untamanya terletak pada luas ruangan, range produk dan jasa yang ditawarkan. Dalam tulisan ini yang dimaksud ritel modern dibatasi pada hypermarket, Supermarket dan Minimarket.
 
Hypermarket 
Hipermarket adalah bentuk pasar modern yang sangat besar, dalam segi luas tempat dan barang-barang yang diperdagangkan. Selain tempatnya yang luas, hipermarket biasanya memiliki lahan parkir yang luas. Konsep hypermarket ini pertama kali diperkenalkan oleh carrefour dan kemudian berkembang dalam berbagai modifikasi. Dalam kategori ini juga dimasukkan toko grosir seperti Makro yang mempunyai format yang  hampir sama dengan hipermarket yang lain namun target pasarnya bukan untuk perorangan tapi untuk pedagang dan untuk kegiatan usaha seperti restoran, hotel, atau catering. Juga penjualannya dalam satuan yang lebih besar.
 
Hypermarket dapat dikategorikan dengan jumlah kasir per toko yang lebih dari 20 orang dan produk yang dijual sekurangnya 25.000 item temasuk kebutuhan sehari-hari, alat-alat elektronik dan furnitur.  Carrefour menyediakan 50.000 jenis produk di setiap gerainya, Giant 35.000-50.000 jenis produk. Tetapi Makro hanya menyediakan sekitar 15.000 jenis produk. Di toko grosir seperti Makro, konsumen bisa mendapatkan harga lebih murah karena harus membeli barang dalam jumlah lebih banyak, misaln¬ya untuk pembelian pasta gigi yang harga persatuannya murah, namun mesti dibeli dalam jumlah minimal satu lusin. Karena itu konsumen potensial gerai ritel grosiran tersebut adalah pemilik warung, toko kecil, hotel, restoran maupun pengusaha katering.
 
Supermarket
Supermarket lebih dulu hadir dibandingkan Hypermarket dan dikenal sebagai bentuk awal pasar modern. Supermarket berbeda dari pasar traditional diantaranya karena bersifat swalayan.
 
Minimarket
Minimarket dikenal juga sebagai convenience store adalah perkembangan dari toko kelontong yang menawarkan kenyamana dan jasa seperti supermarket tapi dalam skala yang lebih kecil. 
 
 
Perkembangan jumlah gerai
 
Dalam periode lima tahun terakhir dari 2007-2011 jumlah gerai usaha ritel di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 17,57% per tahun.  Pada 2007 jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebesar 10.365 gerai, kemudian pada 2011 diperkirakan akan mencapai 18.152 gerai yang tersebar di hampir seluruh kota-kota di Indonesia. 
 
Jumlah gerai hypermarket dari hanya 99 pada 2007 meningkat menjadi 154 pada 2010. Sementara hingga akhir 2011 diperkirakan akan bertambah menjadi 167 gerai. 
 
Sedangkan pertumbuhan jumlah supermarket relatif menurun. Jika pada 2007 tercatat 1.377 gerai maka pada 2010 mengalami penurunan menjadi sekitar 1.230. Penurunan tersebut disebabkan beberapa supermarket terpaksa tutup karena kelah bersaing dengan minimarket. Sementara sebagian gerai supermarket diubah menjadi gerai hypermarket. 
 
Kenaikan jumlah gerai ritel terutama dipicu oleh pertumbuhan gerai minimarket yang fenomenal.  Jika pada 2007 total gerai minimarket hanya 8.889 maka pada 2010 melonjak pesat hingga mencapai sekitar 15.538 buah. Sedangkan pada 2011 diperkirakan akan meningkat menjadi 16.720 gerai. Pertumbuhan bisnis minimarket ini didominasi oleh pertumbuhan outlet Indomaret dan Alfamart, dengan frekuensi pertambahan jaringan relatif cepat dan penyebaran yang cukup luas, baik melalui pola pengelolaan sendiri (reguler) maupun melalui sistem waralaba (franchise).
 
 
Terbanyak di Jakarta
 
Sebagian besar pasar modern baik lokal maupun asing masih terpusat di pulau Jawa, yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan merupakan pusat bisnis di Indonesia. 
 
Pada 2010 perkiraan jumlah gerai pasar modern di Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok) sekitar 38,1% (6.916 gerai), Jawa Barat 14,08% ( gerai), Jawa Timur 12,12% (2.556 gerai), Jawa Tengah 10,2% (1.852 gerai). Setelah pulau Jawa, wilayah Sumatra menempati urutan kedua terbesar yaitu sekitar 8,2% (1.488 gerai).
 
Jakarta sudah jenuh
 
Jakarta mendominasi jumlah gerai pasar modern untuk seluruh format. Dari total jumlah hypermarket di Indonesia pada 2010 sebanyak 152 buah, diantaranya sekitar 44 buah atau 28% ada di Jakarta, supermarket sekitar 21% dan minimarket sekitar 40% berada di Jakarta.
 
Melihat pertumbuhan ritel yang terus menggurita,  dimana jumlah hypermarket dianggap sudah terlalu banyak.  Untuk membenahi keberadaan hypermarket yang kian marak di Jakarta, pada Juli 2006 Pemprov DKI telah merevisi Peraturan Daerah (Perda) No 2/2002 tentang perpasaran swasta.  
 
Berdasarkan Perda No.2/2002, izin lokasi usaha ritel modern harus berjarak dari pasar lingkungan yaitu peritel seluas 100 – 200 m2 harus berjatak 0,5 km, peritel seluas 1.000 – 2.000 m2 harus berjarak 1,5 km, peritel seluas 2.000 – 4.000 m2 harus berjarak 2 km dan peritel seluas > 4.000 m2 harus berjarak 2,5 km.   
 
Sebagai salah satu alternatif solusi masalah zonasi bagi pelaku pasar modern skala besar, maka kini hypermatket diharuskan berada dalam mall. Sebab izin pendirian mall diberikan setelah memenuhi aturan jarak dengan pasar tradisional. 
 
Sejauh ini, tampaknya izin lokasi ini tidak ditaati oleh sejumlah pemilik hypermarket. Hal ini karena pengusaha masih menggunakan kekuatan modal, sehingga dapat mempengaruhi pihak otoritas yang tidak tegas. Contohnya, Plaza Semanggi dengan Pasar Benhil berjarak kurang dari 2,5 kilometer. Bahkan Surat Keputusan Gubernur No 44 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di DKI, dibatalkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) karena diprotes pengelola hypermarket. 
 
Untuk tahun ini Pemprov DKI hanya akan mengeluarkan izin usaha ritel seluas > 5.000 m2 jika berada di gedung pusat perbelanjaan/mall. Pemprov tidak akan memperpanjang izin ritel yang dikelola dalam gedung tersendiri (stand alone). 
 
Namun, rencana Pemprov DKI yang melarang pembukaan toko ritel besar di gedung sendiri, mendapat penolakan dari beberapa peritel besar seperti Carrefour dan Giant. 
 
Sebagai gambaran, dari beberapa hypermarket yang berada di Jakarta hanya Makro yang seluruh outletnya menempati gedung sendiri. Sedang Carrefour hanya memiliki 5 gerai yang stand alone dan Giant 3 gerai saja. Sebagian besar gerai Carrefour, Giant dan Hypermart lainnya berada di dalam shopping centre/mall sebagai anchor tenant.
 
Ritel asing semakin kuat
 
Kehadiran Carrefour sejak 1998 mengubah peta persaingan bisnis ritel di Indonesia. Sebelum Carrefour, ritel asing yang masuk ke Indonesia adalah Walmart, Makro, dan Continent yang akhirnya diambil alih Carrefour. 
 
Menyusul kemudian Dairy Farm International Giant Retail Sdn Bhd  dari Malaysia yang menggandeng PT.Hero Supermarket Tbk mendirikan hypermarket Giant. Sebelumnya Hero Group sangat berpengalaman dan merajai bisnis supermarket di Indonesia, melalui jaringan Hero supermarket. 
Suksesnya investor asing dengan format ritel hypermart, mendorong peritel lokal seperti Matahari Group untuk ikut bersaing dalam bisnis hypermarket, dengan membangun jaringan hypermarketnya yaitu Hypermart. Awalnya Matahari Group sangat berpengalaman dan dikenal cukup berhasil dengan  jaringan department store Matahari yang memiliki gerai di banyak kota besar di Indonesia. 
 
Pada 2009 Lotte Group dari Korea menyerbu Indonesia dengan langkah strategis yaitu mengambil alih Makro yang awalnya dimiliki oleh SHV Holding NV asal Belanda. Untuk akuisisi tersebut Lotte mengeluarkan dana sekitar US$ 223 juta. Lotte Group dirintis oleh Shin Kyuk Ho pada 1973, kini memilki 45 anak usaha yang bergerak dalam bidang  perhotelan, makanan, distribusi, ritel, kimia, dan jasa konstruksi. Grup ini merambah bisnis ritel sejak 1979, mengoperasikan lebih dari 90 gerai di berbagai negara, antara lain Cina, Rusia, Vietnam, dan India. Lotte Group adalah grup bisnis kelima terbesar di Korea Selatan dengan total aset mencapai 31 miliar Euro dan pendapatan bersih sebesar 23 miliar Euro pada 2007.
 

Namun demikian, dominasi asing mulai berkurang seiring dengan pengambilalihan Carrefour oleh Grup Para pada akhir 2010.   Para Group yang dikenal juga dengan CT Corporation milik Chairul Tanjung, pengusaha pribumi mengakuisisi 40 persen saham PT Carrefour Indonesia. Saat ini Trans Ritel menjadi pemegang saham tunggal terbesar, pemegang saham lainnya adalah Carrefour SA (39%), Carrefour Nederland BV (9,5 persen), dan Onesia BV (11,5 persen). Pembelian 40% saham tersebut sekitar US$350 juta, dimana CT Corporation mendapat pinjaman dari Credit Suisse, Citibank, ING dan JP Morgan. pemegang saham lainnya adalah Carrefour SA (39%), Carrefour Nederland BV (9,5 persen), dan Onesia BV (11,5 persen)

 

Sumber : http://www.datacon.co.id/Ritel-2011ProfilIndustri.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s