10 Perusahaan Indonesia dengan Untung Terbesar

 

Perusahaan di Indonesia ternyata mampu bersaing dengan perusahaan di negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, serta Korea Selatan. Buktinya, ada 10 perusahaan Indonesia berhasil menembus daftar 2.000 perusahaan listed terbesar di dunia versi Forbes, Global 2000. Enam di antaranya perusahaan milik negara (BUMN) dan empat di antaranya perusahaan swasta.

Selanjutnya, bagaimana pergerakan harga saham dari ke-10 perusahaan listed tersebut hari ini? Pantauan okezone, rata-rata pergerakan harga saham perusahaan tersebut cenderung stabil. Berikut ulasannya:

1. PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
Perusahaan yang didirikan 54 tahun silam ini tercatat harga sahamnya sebesar Rp57.500 per saham. Pada perdagangan hari ini, terpantau turun 100 poin dibanding harga pembukaan perdagangan yang sebesar Rp57.600 per saham. Transaksi perdagangan yang terjadi hari ini sebanyak 150 ribu lot dengan nilai Rp8,6 miliar.

2. PT Semen Gresik Tbk (SMGR).
Perusahaan produksi semen milik BUMN ini mengalami penurunan harga saham 150 poin menjadi Rp12 ribu dibanding pada penutupan sesi I yang sebesar Rp12.150 per saham. Volum perdagangan hari ini tercatat sebanyak 2,68 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp32,26 miliar.

3. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Perusahaan gas pelat merah ini terpantau harga sahamnya stagnan Rp3.500 per saham. Tercatat volum perdagangan saat ini sebanyak 3,66 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp12,81 miliar.

4. PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Perusahaan pertambangan swasta ini harga sahamnya stagnan Rp2.075, sama dengan harga pada penutupan sesi I. Volum perdagangan saat ini tercatat sebanyak 8,98 juta lot dengan nilai transaksi Rp18,69 miliar.

5. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Perusahaan perbankan milik BUMN ini harga sahamnya juga terpantau stagnan sebesar Rp3.975 per saham. Saat ini, terpantau volum perdagangan yang terjadi adalah 7,8 juta lot dengan nilai Rp30,88 miliar.

6. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Perusahaan perbankan yang juga milik BUMN ini harga sahamnya terpantau Rp7.050 per saham. Saham perbankan ini turun 50 poin dibanding dengan penutupan sesi I yang sebesar Rp7.100 per saham. Adapun volum perdagangan tercatat 4,15 juta lot dengan nilai Rp29,32 miliar.

7. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Harga saham perusahaan perbankan yang juga milik BUMN ini tercatat stagnan dalam perdagangan hari ini. Harga saham belum berubah dibanding sesi I yaitu sebesar Rp6.950 per saham. Terpantau volum perdagangan sebesar 1,96 juta dengan nilai transaksi sebesar Rp13,62 miliar.

8. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Perusahaan telekomunikasi milik BUMN ini juga tidak ketinggalan. Saham perusahaan ini terpantau naik 100 poin menjadi Rp7.750 per saham dibanding dengan penutupan sesi I yang sebesar Rp7.650 per saham. Tercatat volum perdagangan saat ini sebanyak 13,75 juta lot dengan nilai perdagangan Rp106,52 miliar.

9. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
Perusahaan yang baru saja melakukan aksi korporasi yang bergabung dengan perbankan asal Singapura, DBS Group Ltd ini terpantau harga sahamnya stagnan Rp6.250 per saham. Terpantau sebanyak 1,55 juta lot diperdagangkan hari ini dengan nilai Rp9,73 miliar.

10. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Perbankan swasta di Indonesia yang menembus daftar 2.000 perusahaan listed terbesar di dunia versi Forbes adalah Bank BCA. Saat ini terpantau harga saham perbankan yang didominasi warna biru ini stagnan di level Rp7.900 per saham. Adapun banyaknya saham yang diperdagangkan hari ini sebanyak 970 ribu lot dengan nilai Rp7,64 miliar.

 

10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia

Dalam dunia bisnis, kita sering dengar kata “branding”, “marketing” dan “iklan”. Tapi kata Branding yang paling sering di sebut sebut. Kemudian adalagi kata Merk, atau bisa di sebut sebagai identitas. Banyak pakar bisnis bilang kalau kita mengeluarkan anggaran untuk beriklan dan pemasaran tanpa memperdulikan posisi merek, itu sama saja dengan menumpuk uang lalu membakarnya.

Branding adalah konsep yang ternyata paling banyak salah dimengerti dalam dunia pemasaran. Branding bukanlah periklanan dan bukan pula pemasaran atau humas. Branding adalah cara membentuk konsumen potensial agar memandang Anda sebagai satu satunya pemecahan masalah mereka. Begitu anda dipandang sebagai satu satunya, tidak ada tempat lain untuk berbelanja.

Produk atau layanan Anda bukanlah merek perusahaan, logo, atau Kartu nama Anda. Merek adalah “kepribadian sejati perusahaan”. Merek adalah apa yang dipikirkan dan dikatakan konsumen.

Merek adalah sebuah janji dan branding merupakan tindakan mewujudkan janji yang dibuat perusahaan kepada dunia. Pemasaran ibarat kotak peralatan yang berisi Branding, iklan, direct email, riset pasar, relasi dan lain lain. Iklan bisa berupa iklan cetak (surat kabar, majalah), iklan out door (billboard, spanduk), Iklan Banner di Internet atau di TV, Radio. Tujuan Iklan adalah menarik perhatian, menciptakan persepsi positif, dan mendorong suatu reaksi selagi menyampaikan informasi yang akan dianggap relevan bagi kebutuhan konsumen.

Jika Anda belum menemukan spesifikasi merek perusahaan Anda, jangan habiskan satu rupiah pun untuk pemasaran sampai Anda berhasil. Meski semua orang kenal dengan merek merek global seperti Apple, Nike, Coke dan Nokia, perusahaan kecil juga dapat mengembangkan merek potensial serta memasarkannya dengan sukses.

Suatu Merek menciptakan image dalam benak konsumen, yang menyimpulkan adanya sesuatu yang berbeda dari perusahaan Anda. Berikut di bawah ini adalah daftar 10 perusahaan lokal Indonesia yang berhasil melakukan branding mereknya sehingga menjadi besar melebihi ukuran perusahaannya sendiri.


OUVAL RESEARCH

Maraknya komunitas skateboard di Bandung membuat trio Rizki, Maskom dan Firman, pada 1997 menciptakan Ouval Research. Tujuan semuala adalah untuk menyuplai peranti juga fesyen buat para skateboarder.”Saat itu, kalau harus beli, rasanya mahal,” kata Rizky.

Pada tahap awal, Ouval Research merilis produk pakaian, seperti kaus, jaket, celana panjang, dan tas. “Kami berpikir untuk membuat produk yang mewakili komunitas kami,” ujar Rizki.

Maka, sebagai langkah pembuka pasar, Rizki cs menawarkan produk Ouval pada komunitas terdekatnya yang memiliki minat olahraga, selera musik, serta pakaian yang sama.

Waktu itu kondisi sedang krisis ekonomi. Harga barang impor naik semua. Toh, tak mudah menegakkan usaha baru tersebut. Mereka mesti berjuang meyakinkan para pelanggan bahwa produk yang ditawarkan tak kalah berkualitas dari produk asing. “Itu susah,” imbuh Rizki. Orang lebih dulu ragu dengan kualitasnya, karena harganya jauh lebih murah.

Apalagi, saat itu mereka masih menggunakan cara berdagang dari pintu ke pintu alias door to door. “Semua turun tangan dalam hal pemasaran,” ujarnya.

Karena keterbatasan modal dan waktu, maka mereka membuka pula layanan jasa usaha lain untuk memproduksi pesanan pakaian atau tas. “Modal terbatas, karena mayoritas kami baru lulus kuliah,” kata Rizki.

Kekuatan label ini terletak pada koleksi kaosnya yang hadir dengan print unik dan erat sekali dengan budaya street style yang dinamis, fun dan berjiwa muda. Dari kaos, koleksi Ouval Research berkembang hingga ke aksesori, mulai dari tas, sepatu, bahkan sampai MP3 dan otopet. Kini Ouval Research semakin memperlihatkan keseriusan dan kemajuan bisnisnya hingga mengekspor produknya ke mancanegara seperti Singapura di butik Fyeweraz dan skateboard di Jerman.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  Le monde 2 291210131223 ll3.jpg3

Le Monde

Le monde diambil dari Bahasa Prancis yang artinya dunia. Perusahaan ini merupakan bisnis keluarga memiliki yang didirikan oleh Zakiah Ambadar (Jackie Ambadar) dengan aset Rp 13 miliar dengan omset Rp 3 miliar per bulan. Saat ini, perusahaan perlengkapan bayi ini mempunyai 10 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor dan Malang. Selain memiliki banyak outlet, Le Monde telah melakukan franchise sejak tahun 2001.

Pengalaman pertama menjajakan produk dagangnya yaitu memasang display satu kamar tidur lengkap di Pasaraya, begitu jam pertama dibuka langsung bisa terjual habis diborong oleh istri pejabat. Saat itu pengelola Pasaraya sempat menegur Jackie karena ia tidak menyediakan stock atau cadangan.

Setelah sukses di Pasaraya, Jackie Ambadar yang sekaligus menjadi Managing Director PT Lembanindo Tirta Anugrah, kemudian melabarkan sayap usahanya dengan menjual Le Monde di pasar Melawai. Permintaan ternyata cukup tinggi, sehingga pihaknya kewalahan memenuhi permintaan konsumen.

Guna memenuhi permintaan pasar, Jackie lalu mendirikan pabrik di Ciawi, Bogor. Bersamaan dengan itu, pada tahun 1984 Le Monde juga membuka Kantor Pemasaran di kawasan Jl Radio Dalam Raya No. 88, Jakarta Selatan. Pembukaan outlet di Jl Radio Dalam ini dimaksudkan untuk merealisasikan toko sendiri, menjaga cash flow karena department store melakukan pembayaran yang relatif lama yaitu 45 hari, padahal Le Monde harus membayar pada supplier atau penyedia bahan-bahan produksi dengan jangka waktu 20 hari. Selain itu, tentu saja pembukaan tersebut sebagai wujud dari keinginan untuk lebih dekat dengan konsumen.

Jackie melihat bahwa produk-produk yang dijual di pasaran seperti di sejumlah department store selama ini tidak pernah lengkap. “Karenanya ketika Le Monde bisa menyajikan display secara lengkap banyak pengunjung senang,” katanya.

Kini produk produk Le Monde sudah di ekspor keberbagai negara di Asia, Australia, Jerman, hingga negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Bahrain. Berkat keberhasilannya menjaga mutu prima, Le Monde pernah menyabet penghargaan Best Asean Infant Wear 2005.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  Tas Mimsy

Mimsy

Christyna Theosa seorang mahasiswi Art Center College of Design Pasadena, Perempuan kelahiran Tuban, 2 Januari 1982 ternyata sukses dengan tas buatannya yang di beri nama label Mimsy pada 2004. Ia banyak bereksperimen dengan bahan dan warna untuk menciptakan desain yang elegan, unik, dan classy, namun juga seksi dan funky.

Ia mendesain clutch-nya dengan bahan terbaik seperti kulit Italia, kain lace Jepang dan Prancis, pita sutra, beludru, hingga kristal Swarovski. Semua tas dan clutch-nya juga dilapisi dengan bahan suede Italia dan satin. Tas-tas buatannya ini dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta.

Christyna memasarkan koleksinya door to door, sampai akhirnya memutuskan untuk memilih jalur konsinyasi dengan toko tas dan pakaian di daerah Main Street, Santa Monica, CA. “Lingkungan itu adalah daerah perkantoran orang-orang film Hollywood dan studio film,” ujarnya.

Tas Mimsy yang bergaya edgy ternyata diminati, dan penjualannya terus melesat. Christyna pun kemudian menyasar pecinta fashion dengan budget terbatas dan membuat label Clementine yang dibandrol Rp 158 ribu – Rp 600 ribuan. Perbedaan ada pada bahan bakunya, “Namun kualitas sama baiknya,” terangnya lagi.

Kini tas karyanya bisa ditemui di Amerika (New York, Los Angeles, Chicago), Jepang, Malaysia, dan tentunya Indonesia (Grand Indonesia Shopping Town). Koleksi tas ini juga bisa diakses di http://www.mimsycollections.com.

Saat ini Christyna telah bekerjasama dengan label internasional seperti Bebe dan Urban Outfitters. Untuk Bebe, dia menciptakan tas Mimsy limited edition. Christyna juga tidak melupakan akarnya sebagai wanita Indonesia, setiap tahun dia menciptakan koleksi tas dengan unsur Indonesia.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  straightleg53

PeterSaysDenim

Adalah nama Label Celana Jins yang cukup terkenal di Bandung, didirikan oleh Peter Firmansyah, Produk-produknya sudah diekspor ke beberapa negara. Bahkan jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim.

Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth. Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal. “Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke kelab, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. “Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.

Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong. “Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. “Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. “Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.

“Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  al madad coklat banten3

Al Madad

Al Madad adalah merek cokelat yang digagas Sofihah dan mulai dikenal pasar lokal sejak 2008 lalu. Sofihah memang berniat mengangkat kekhasan lokal Banten dari produk cokelatnya. Mulai penamaan yang bernuansa religi dan budaya khas Banten, hingga penggunaan bahan baku cokelat yang berasal dari sejumlah pabrikan cokelat di Banten. Sejumlah pabrikan ini juga menggunakan bahan baku cokelat dari perkebunan yang ada di provinsi berusia 10 tahun ini.

“Indonesia penghasil cokelat terbesar di dunia. Perkebunan cokelat di Serang, Banten, juga terbesar di tingkat Asia. Jadi tak perlu jauh-jauh menikmati cokelat, karena semuanya ada di negeri sendiri,” katanya, menambahkan bahwa perkebunan cokelat di Serang berhasil mengekspor cokelat untuk pertama kalinya pada tahun 2010.

Dengan Modal Rp 10 juta, usaha berkembang dalam dua tahun Sofi menghitung, modal awal membangun usaha perdananya ini sekitar Rp 10 juta. Bahan baku yang didapat tak jauh dari tempat tinggalnya di Serang membantunya mengurangi sejumlah biaya. Sejumlah alat mesin maupun manual yang dibutuhkan untuk produksi cokelat juga termasuk dalam modal awal ini.

Kini, setelah dua tahun berjalan, produksi rata-rata hariannya lebih dari 200 cokelat. Omzetnya mencapai Rp 12 – 15 juta per bulan dengan profit lebih dari 20 persen.

Sofi juga berhasil mengembangkan bisnis cokelatnya dengan membuka tiga outlet di supermarket dan mall.

Fokus pada pengembangan produk Meski dekat dari sumber daya alam cokelat, Sofi mengaku lebih efisien membeli bahan baku setengah jadi dari pabrik cokelat. Sofi lebih banyak menggunakan dark chocolate pada produknya.

“Membeli bahan baku mentah dari kebun membutuhkan biaya lebih tinggi untuk pengolahan. Saya lebih memilih membeli bahan baku pabrikan dan fokus pada pengembangan produk,” katanya.

Benar saja, dalam dua tahun cokelat Al Madad memiliki lebih dari tiga varian olahan cokelat. Tahap awal, Sofi mengenalkan cokelat berbentuk stik bergambar bunga atau binatang. Anak-anak menjadi sasaran pasar Sofi pada tahap awal membuka bisnisnya yang belum diberi nama Al Madad. Cokelat stik kreasi Sofi semakin berkembang pada 2009 dengan model edible. Cokelat stik dengan model gambar dari bahan kertas gula yang aman dimakan. Sofi juga menerima permintaan khusus, dengan mengganti gambar atau foto tokoh kartun pada cokelat edible, dengan foto pribadi.

Kurang dari setahun, Sofi menangkap peluang lain untuk mengembangkan usahanya. Al Madad kemudian hadir dalam bentuk cokelat batangan dengan dua pilihan ukuran, 80 gram dan 60 gram. Variasi rasa juga memperkaya pilihan produk. Cokelat batangan Al Madad terdiri atas rasa kismis, kacang mede, kurma, dan kacang tanah.

Selanjutnya Sofi menambah lagi varian produk dengan model cokelat praline. Dengan kemasan unik dan cantik, cokelat praline buatan Sofi berhasil menarik pasar. Prinsip melayani sesuai permintaan membuat bisnis cokelat miliknya semakin berkembang.

“Cokelat praline bisa dipesan sesuai permintaan, baik ukuran maupun tulisan. Misalnya, cokelat bertuliskan I Love You untuk hadiah valentine,” katanya.

Cokelat praline ini berbentuk bulat berukuran kecil yang dikemas dalam wadah plastik transparan. Isinya beragam, mulai dua buah cokelat. Cokelat bulat kecil ini berisi varian rasa seperti cokelat cair, strawberry, blueberry, atau nanas. Cokelat model ini umumnya banyak dipesan menjelang lebaran. Kemasannya yang cantik layak dijadikan hantaran lebaran atau sebagai hadiah.

Berganti skema pemasaran Bisnis bagi Sofi memerlukan keberanian mengambil risiko. Gagal bukan menjadi hambatan baginya. Mencari skema pemasaran yang lebih tepat menjadi tantangan tersendiri bagi Sofi.

Saat pertama kali mengenalkan produk cokelat lokal, Sofi mengaku mengalami kesulitan. Namun motivasi kuat untuk berbisnis dan membuka lapangan kerja mendorongnya untuk tetap bertahan dan semakin berkembang.

Mengandalkan brosur dan rekanan distributor, Sofi mengenalkan cokelat stik sebagai produk perdananya. Melihat peluang bisnis online, Sofi mulai mengaktifkan situs merek cokelat Al Madad sebagai bentuk pemasaran lanjutannya. Lalu, Sofi juga menjual cokelatnya melalui sejumlah minimarket. Akhirnya, dengan bantuan dan dukungan keuangan dari BUMN Jasa Raharja melalui program pembinaan usaha kecil, Al Madad mulai dipasarkan di outlet milik Sofi di pusat belanja di Serang.

“Outlet di mall lebih eye catching. Setidaknya traffic pengunjung yang tinggi membuka peluang penjualan. Awalnya pengunjung hanya melihat-lihat, lalu karena tertarik mencoba, mereka kemudian membeli cokelat,” papar Sofi, yang mengaku omzet semakin meningkat sejak membuka tiga outlet.

Keunikan produk Al Madad tak hanya karena mengangkat kearifan lokal Banten. Sofi juga menyertakan brosur berisi pengetahuan seputar manfaat cokelat. Dengan begitu, konsumen lebih teredukasi mengenai nilai lebih dari cokelat yang bisa menimbulkan mood positif.

Produk lokal cokelat Al Madad di bawah kepemimpinan Sofi, membuktikan kemampuan bisnis skala kecil memenuhi permintaan konsumen dan menarik kepercayaan perusahaan untuk menjadi mitra. Dengan tambahan modal dari mitra, Sofi mampu menambah produksi cokelat untuk tetap konsisten memenuhi permintaan pasar. Dalam dua tahun, Al Madad dikenal sebagai produk unggulan khas Banten, serta berhasil menggaet pasar di kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Bukan mustahil nantinya dark chocolate asli Banten ini mendunia. Toh sejumlah produk impor nyatanya mengambil bahan baku dari lahan yang sama, tanah Banten.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  jcodonuts3
J.CO Donuts & Coffe

Johnny Andrean yang sebelumnya terkenal sebagai pengusaha salon yang sukses. Tak kurang dari 168 jaringan salon dan 41 sekolah salon dimilikinya, namun insting sang penata rambut kemudian membawanya terjun ke bisnis makanan.

Sejak tahun 2003 ia aktif mengembangkan J.CO. J.CO adalah produk dalam negeri dengan menggunakan konsep dari luar negeri dan disempurnakan dengan modernisasi dan kualitas terbaik. J.CO ditujukan untuk menyerbu pasar asing.
Persiapan J.CO membutuhkan waktu yang lama.

Selama 3 tahun Johnny Andrean dan timnya mempelajari bisnis donat, mengeksplorasi resepnya, serta melakukan riset pasar dan sampling. Johnny meluncurkan J.CO dengan konsep “apa yang disukainya dan hal ini bisa diterima masyarakat”.

Tahun 2005, outlet pertama J.CO donuts ane coffe dibuka di Supermall Karawaci. Sejak itu J.CO terus mengembangkan sayap di berbagai mall diIndonesia. Dengan mengandalkan racikan donat dan kopi berkualitas internasional, perusahaan lokal dengan rasa internasional ini terus berkembang. J.CO bahkan ada di Malaysia dan Singapura.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  velly kristanti3

Klenger Burger

Pada awalnya adalah Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, ingin mencoba sebuah usaha sendiri, mereka pun nekat keluar dari pekerjaan dan memulai bisnis sendiri tahun 2004, dari bisnis advertising syariah, bisnis IT, ternyata semua berujung gagal. Kebetulan pada awalnya mereka punya usaha Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.

Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan. Intinya, bikin orang jadi ‘klenger’!. Begitulah nama ‘klenger’ akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.

Selain nama yang gampang diingat serta rasa dan servis yang memuaskan, Klenger Burger juga sukses dengan persebaran outletnya yang pada tahun 2010 ini berupaya mencapai target 100 outlet di seluruh negeri. Tak heran, “Jelajah Negeri” jadi tema Klenger Burger untuk tahun ini.

Sepertinya, target itu akan mudah tercapai mengingat hingga April 2010 ini, Klenger sudah mempunyai 63 outlet yang tersebar di Jabotabek, Bandung, Kuningan, Bali, dan Medan.Selain itu, ada 8 outlet yang mau opening, serta tambahan 6 outlet yang sedang dalam preparation juga.

Selain burger, Klenger juga memperkenalkan brand Pizza Kriuk, Clemots Coffee, dan Kweker Fried and Grilled Duck. Pizza bikinan Klenger juga masih bercita rasa Indonesia, misalnya saja pizza balado dan pizza sate.

Klenger memang addict untuk membuat brand-brand baru di bawah PT Kinarya Anak Negeri (KAN), perusahaan yang digawangi Velly dan suami. Brand-brand ini pun mempengaruhi strategi marketing Klenger ke masyarakat, dan tentunya investor yang berminat menjadi Franchisee.

Kini, sudah ada Burins (Burger Instan) yang menganut konsep take away, dapat ditemui di jaringan Alfa Express dan Circle K, 2K (Klenger Kriuk) yang menyediakan menu burger dan pizza dengan tempat buat kongkow yang asyik, Foodteran dengan konsep kolaborasi Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots Coffee dalam satu area yang menyuguhkan pilihan variasi lengkap dengan teknologi support Free WIFI.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  esteler773

Es Teles 77

Es Teler 77 bermula ketika Murniati Widjaja, memenangkan juara kompetisi memasak dengan membuat minuman tradisional Indonesia itu. Saat itu pada 1982. Murniati dengan dukungan suaminya membuka restoran khusus es teler yang diberinya nama Es Teler 77. Dua angka di belakang bukan tanpa makna. Bagi keluarga Widjaja, 77 merupakan nomor keberuntungan.

Modal Rp 1 juta dipakainya untuk mendirikan tenda kecil di emper pusat perbelanjaan Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat. Terkadang, dagangannya terpaksa tutup ketika hujan mendera dan genangan mulai meninggi.

Pada 1987, franchise pertama dibuka di Solo Jawa Tengah. Namun saat ini, Es Teler 77 telah mencapai 180 cabang dan mempekerjakan dua ribu orang, hampir di seluruh provinsi ada.

Tak hanya di dalam negeri, Es Teler 77 telah go international ke Singapura dan Australia, masing-masing tiga outlet. “Kami sedang bersiap merambah Beijing dan Jeddah dengan mengikuti pameran di sana pada Mei ini,” kata Anton yang merupakan generasi kedua dari bisnis ini.

Merambah luar negeri, Anton menyatakan, telah mendaftarkan hak cipta merek dagangnya. “Penting untuk mengamankan terlebih dulu hak cipta untuk menghindari copy cat dan penyalahgunaan merek,” ujarnya.

Keinginan untuk go international Anton mengakui tidak berorientasi pada keuntungan. Tidak bisa dianggap profit centre, untuk survei ke luar negeri saja membutuhkan biaya yang banyak.

Menginjakkan kaki ke Singapura dan Australia hanya untuk membangun merek. “Semacam visi tersendiri bahwa usaha kami bisa merambah global,” kata Anton.

Lagipula dengan menjual cita rasa khas Indonesia warga negara Indonesia yang hampir tersebar di seluruh dunia menjadi sumber pelanggan utama. Ditambah dengan komunitas yang dibangun dengan masyarakat lokal, di sana akan mengembangkan pasar.

Selain itu, alasan memilih negara seperti Jeddah dan Beijing juga karena karakter selera yang tidak jauh berbeda. Kalau di Jeddah karena banyak yang umroh dan bekerja di sana, maka menjadi pasar yang cukup besar, permintaan di dua negara itu juga banyak.

Sedangkan Beijing, akan menjadi pasar yang menjanjikan mengingat karakter masakan di kawasan Asia akan mengglobal. “Lihat saja di mall-mall Indonesia, tidak hanya masakan Indonesia tapi juga ada masakan China, Thailand, atau Vietnam,” ujarnya.

Hingga saat ini, Es Teler 77 telah membuka dua resto cepat saji, yakni di Jalan Aditiawarman dan Pantai Indah Kapuk. Menu andalan tetap pada es teler, bakso, dan mie ayam. “Itu menu-menu pertama kami,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, menu-menu baru hasil kreasi sendiri mulai bermunculan, seperti siomay, pisang bakar, roti bakar, nasi goreng, ayam goreng, dan sop buntut.

Bagi pemula waralaba, Anton membagi sedikit resep. Sebenarnya tidak terlalu sulit menjalankan bisnis, yang penting harus sadar bahwa konsep bisnis yang jelas merupakan faktor utama untuk dijual, dan kemudian harus fokus pada brand. Untuk fokus di brand yang sudah dibangun, perlu adanya standarisasi dalam produk.

Usahawan juga harus mau mulai dari bawah dan bertahap untuk mendapatkan kesuksesan. “Yang lain, dipertajam dengan pelatihan-pelatihan,” ujarnya.

Anton sengaja membidik segmen menengah ke bawah untuk usahanya. Agar usahanya tidak terlalu suka buka di mall yang mahal biaya sewanya. Balik modal rata-rata terjadi dalam dua tahun. Berbeda-beda tergantung lokasinya. Kadang di daerah malah bisa setahun balik modal, karena di sana investasi murah dan belum banyak saingan.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  pic013
PARTNER IN CRIMES

Fahrani memang sudah malang melintang di dunia modeling Internasional. Namun cewek bernama lengkap Fahrani Pawaka Empel ini ternyata punya insting bisnis yang baik. Yaitu Brand sepatu buatannya, Partner In Crime. bisnis sepatu wanitanya berlabel Partner in Crimes, mendapat sambutan positif dari publik, baik lokal maupun international.

Karakter yang rebellious dengan detail stud yang sangat digemari wanita urban mendominasi desainnya, yang tak hanya kondang di Bali. Disalurkan lewat butik multibrand di Jakarta, merek ini sudah berekspansi ke Ibiza, spanyol. Rencananya kedepan giliran Australia yang bakalan ‘ditodong’. Merek ini siap menjajah benua Kangguru.

Awalnya fahrani tidak berniat membuat desain sepatu. Dia pernah tinggal di Jepang, dan punya temen yang punya bisnis jeans, tapi jeans-nya ini ada aksesorinya. Saat itu temannya minta bantuan buat bikin desain aksesorinya. Berawal dari situ Fahrani mulai suka mendesain gambar-gambar.

Dari desain gambar dia mulai beralih ke desain aksesoris, lampu terus baru mulai ke sepatu. Ketika Fahrani berkunjung ke Bali, dan ada salah seorang sahabatnya buka toko di Bali dan dia perlu berpartner dengan orang Indonesia. Akhirnya dia minta bantuan gue. Dan tadinya fahrani berniat untuk jadi silent partner. Dari sini Fahrani pun terdorong untuk membuat desain sepatu. Ternyata dari sini malah desain sepatu nya lumayan sukses hingga sekarang.

Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  hatten20wines3
HATTEN BALI WINES

Wine yang beredar di Indonesia masih di dominasi produk Impor, tetapi ada Wine Lokal yang mutunya tak kalah dengan impor yaitu Hatten Bali Wines, WIne ini mulai diproduksi oleh anak negeri asal Bali bernama I B Rai Budarsa tahun 1994. Gus Rai, panggilan akrabnya, sungguh tak asing dengan ilmu membuat minuman dari anggur, lantaran keluarganya sudah membuat brem dan arak Bali sejak tahun 1960-an, plus latar belakang pendidikannya di jurusan food processing, dan ia memang pecinta wine.

Anggur-anggur didatangkan dari vineyard pribadi seluas 14.5 hektar yang berlokasi di Singaraja, Bali. Tidak hanya vineyard, Hatten juga mempunyai winery untuk memproduksi lebih dari 8 jenis wine, dan itu membuat Hatten Wines menjadi winery pertama di tanah air yang bisa dikatakan 100% Indonesia.

Hatten Wine Rose hingga kini menjadi produk andalan dari Hatten Wine, dan sempat memenangkan penghargaan di London pada tahun 2003. Ekspor Hatten Wines kini sudah mencapai negara-negara Eropa seperti Belgia, Inggris dan Belanda, serta Singapura hingga Maladewa.
Gambar 10 Perusahaan Lokal Indonesia yang Bermerek Dunia Perusahaan Lokal Merek  bali aga3

Sumber:

http://irfanwineers.wordpress.com/2012/03/26/10-perusahaan-lokal-indonesia-yang-bermerek-

10 Perusahaan Terkenal di Dunia

Posted: December 10, 2012 in Uncategorized
10 Perusahaan Terkenal di Dunia
 
 
Perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas atau energi masih mendominasi daftar sebagai perusahaan terbesar di dunia. Energi adalah kebutuhan yang substansial bagi keberlangsungan kehidupan manusia sehingga tidak heran perusahaan yang berbisnis di bidang ini menjadi perusahaan terbesar di dunia. Berikut ini adalah Top 10 perusahaan tersebesar di seluruh dunia.

 10. Chevron

chevron

Perusahaan migas dan pertambangan ini sangat rajin menampilkan iklannya di televisi nasional Indonesia. Chevron adalah perusahaan energi multinasional asal San Ramon, California, AS yang beroperasi di lebih dari 180 negara. Kegiatan yang dilakukan Chevron adalah terlibat dalam setiap aspek seperti minyak, gas alam, industri energi panas bumi, eksplorasi, produksi, penyulingan hingga pemasaran. Pendapatan yang diterima Chevron tahun 2011 adalah sebesar $196.337.000 dengan keuntungan sebesar $ 19.024.000 dan memiliki karyawan sebanyak 62 ribu, maka tak heran jika Chevron menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia,
 

 

9. Japan Post Holdings

japan post holdings

Japan Post Holdings adalah perusahaan BUMN yang bergerak dibidang jasa keuangan, perbankan, asuransi jiwa, asuransi dan pengiriman surat yang berkantor pusat di Chiyoda, Tokyo, Jepang dengan Jiro Sito sebagai presiden perusahaan ini. Japan Post Holdings merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia dengan pendapatan sebesar $ 203.958.000 dan keuntungan sebesar $ 4.891.000 serta memiliki karyawan sebanyak lebih dari 229 ribu karyawan.
 

 8. Toyota Motor

toyota motor

Toyota Motor adalah perusahaan otomotif multinasional yang bermarkas besar di Toyota, Aichi, Jepang. Toyota Motor didirikan sejak tahun 1937 oleh Kiichiro Toyoda. Toyota Motor sukses menjadi produsen otomotif terbesar di dunia. Sebut saja Toyota Camry, Toyota Prius, Toyota RAV4, dll adalah mobil-mobil mewah asal pabrikan dari Jepang. Kini Toyota juga dikenal sebagai perusahaan yang mengembangkan robotic yang canggih. Toyota Motor menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia dengan pendapatan di tahun 2011 sebesar 221.760.000 dolar dan keutungan sebesar 4.766.000 dollar serta memiliki karyawan sebanyak lebih dari 317 ribu karyawan.
 

 7. State Grid

state grid

State Grid adalah perusahaan listrik milik negara yang melayani transmisi tenaga listrik dan mendistribusikannya ke seluruh China. State Grid berpusat di Distrik Xicheng, Beijing, China. China mengelola BUMN nya dengan sangat baik dan menjadikan kekuatan yang strategis bagi negara besar ini, bahkan China dapat membawa perusahaan milik negara ini menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia dengan pendapatan yang diterima tahun 2011 adalah sekitar 226.294.000 juta dolar dengan keuntungan 4.556.000 juta dolar dan memiliki karyawan sebanyak lebih dari 1,5 juta karyawan.
 

 

6. China National Petroleum

china national petroleum

China National Petroleum Corporation (CNPC) adalah perusahaan BUMN China yang bergerak di bisnis migas yang berkantor pusat di Distrik Dongcheng, Beijing, China. Sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia, CNPC memiliki karyawan yang cukup banyak, yaitu lebih dari 1,6 juta karyawan dan pendapatan di tahun 2011 adalah sebesar $240.192.000 serta keuntungannya sebesar $ 14.367.000.
 

 5. Sinopec Group

sinopec group

Sinopec Group adalah perusahaan penyulingan minyak dan petrokimia terbesar di Asia yang berpusat di Chaoyangmenwai, RRC. Sebagai salah satu perusahaan migas terbesar di dunia, pendapatan Sinopec Group di tahun 2011 sebesar 273.422.000 $ dan keuntungan sebesar 7.629.000 $.
 

 

4. BP

BP

BP (British Petroleum) adalah perusahaan global yang bergerak dibisnis minyak dan gas yang berbasis di London Inggris sejak 1909 dengan wilayah pelayanannya berada di seluruh dunia. BP menghasilkan 3,8 juta barel perhari yang beroperasi di 80 negara. BP memiliki hampir 80 ribu karyawan dengan pendapatan 308.928.000 $ dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.
 

 3. Exxon Mobil

ExxonMobil

Perusahaan terbesar ketiga di dunia adalah perusahaan yang juga tidak asing lagi yang juga merupakan perusahaan publik yang melakukan kapitalisasi pasar, Exxon Mobil. Exxon Mobil adalah perusahaan minyak dan gas multinasional asal Amerika. Di Indonesia sendiri Exxon Mobil dikelola dan dieksplorasi di Kalimantan, blok Cendrawasih di Papua, blok Cepu. Pendapatan Exxon Mobil tahun 2011 sekitar 354.674.000 $ dan memiliki keuntungan sebesar 30.460.000 $ dengan karyawan sebanyak 103 ribu diseluruh dunia.
 

 2. Royal Dutch Shell

royal dutch shell

Royal Dutch Shell adalah perusahaan terbesar kedua di dunia. Mungkin banyak yang tidak familiar dengan Royal Dutch Shell, tapi jika Shell, nah pasti tahu deh yang memiliki logo kerang berwarna kuning. Shell adalah perusahaan migas yang bermarkas di Belanda dan berkantor di London Inggris. Shell adalah perusahaan yang terintegrasi secara vertikal dan aktif dalam setiap bidang industri minyak dan gas, termasuk eksplorasi dan produksi , penyulingan , distribusi dan pemasaran , petrokimia , pembangkit listrik dan perdagangan dan juga memiliki kegiatan besar seperti energi terbarukan termasuk di biofuel , hidrogen , tenaga surya dan tenaga angin . Perusahaan ini beroperasi di lebih dari 90 negara yang menghasilkan produksi minyak sekitar 3,1 juta barel perhari dan memiliki 44 ribu stasiun layanan diseluruh dunia. Tahun 2011 pendapatan Royal Dutch Shell sebesar 378,152 juta dollar dengan keuntungan 20,127 juta dollar serta memiliki 101.000 karyawan.
 

 1. Wal-Mart Stores

 walmart

Wal-Mart adalah perusahaan terbesar asal AS dengan basis di Arkansas. Wal-Mart merupakan sebuah perusahaan ritel multinasional yang menjalankan rantai department store ke seluruh dunia dengan 2,1 karyawan. Pendapatan Wal-Mart atau Walmart ditahun 2011 adalah sebesar $ 421.849.000 dengan keuntungan $ 16.389.000 dari bisnis kelontongnya. Walmart didirikan oleh Sam Walton tahun 1962 dan kini kursi President & CEO dipegang oleh Mike Duke. Walmart memiliki 8.500 toko dari 15 negara seluruh dunia dan memiliki 55 nama yang berbeda.

10 Perusahaan RI di Daftar 2000 Raksasa Dunia

Enam di antaranya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sisanya perusahaan swasta.

Jum’at, 20 April 2012, 21:54 Arinto Tri Wibowo, Nur Farida Ahniar, Iwan Kurniawan, Syahid Latif
Enam BUMN masuk perusahaan raksasa dunia. (VIVAnews/Adri Irianto)
 

VIVAnews – Tahun ini, majalah ekonomi terkemuka dunia, Forbes, kembali merilis daftar 2.000 perusahaan raksasa dunia. Total pendapatan 2.000 korporasi dunia itu mencapai US$36 triliun, tumbuh 12 persen dibandingkan tahun lalu. Laba yang diperoleh mencapai US$2,64 triliun atau naik 11 persen. Total aset 2.000 perusahaan tersebut mencapai US$149 triliun. Namun, perolehan aset itu hanya meningkat 8 persen dibanding posisi setahun lalu.

Sementara itu, nilai pasar dari seluruh perusahaan itu justru merosot 0,5 persen menjadi US$37 triliun. Perusahaan-perusahaan raksasa ini mempekerjakan sebanyak 83 juta orang di seluruh dunia.

Laporan Forbes yang dikutip Jumat 20 April 2012 itu menempatkan Exxon Mobil sebagai perusahaan paling untung sejagat. Ini untuk pertama kalinya perusahaan minyak asal Amerika Serikat itu memuncaki posisi teratas “The Global 2.000.”

Exxon menggeser JP Morgan Chase, yang sebelumnya berada di posisi puncak. Posisi lima besar lainnya ditempati oleh General Electric, Royal Dutch Shell, dan bank asal China, ICBC. Perusahaan-perusahaan kelas dunia itu dinilai berdasarkan kinerja penjualan, laba, aset, dan nilai pasar.

Menariknya, dalam daftar itu, Forbes menempatkan 10 perusahaan dari Indonesia. Bahkan, enam di antaranya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sisanya perusahaan swasta.

Posisi teratas untuk perusahaan Indonesia yang masuk daftar Global 2.000 adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. BUMN di sektor perbankan itu berada di peringkat 479 dunia. Menyusul di belakangnya PT Bank Mandiri Tbk (488) dan selanjutnya PT Bank Central Asia Tbk yang meraup laba US$3,1 miliar di posisi ketiga.

Kementerian Negara BUMN mengklaim masuknya enam perusahaan pemerintah dalam daftar 2.000 korporasi terbesar dunia menunjukkan bahwa BUMN tidak kalah dari perusahaan-perusahaan swasta kelas dunia yang beroperasi di Indonesia.

Sekretaris Kementerian BUMN, Wahyu Hidayat, mengakui BUMN selama ini kerap diremehkan dibandingkan swasta. “Namun ternyata tidak. Masuknya enam BUMN ini menunjukkan kami tidak kalah dengan PT Unilever dan perusahaan lainnya,” kata Wahyu di Jakarta, Jumat, 20 April 2012.

Menurut Wahyu, masuknya perusahaan pelat merah dalam jajaran korporasi raksasa dunia sejalan dengan kebijakan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan yang selalu mendorong perusahaan pelat merah untuk tumbuh lebih besar. 

Berikut ini adalah 10 perusahaan besar asal Indonesia yang masuk daftar Global 2.000:

Peringkat Global 2.000 Perusahaan

Penjualan

(US$)

Laba

(US$)

Aset

(US$)

Nilai Pasar

(US$)

479 Bank Rakyat Indonesia 5,9 miliar 1,7 miliar 51,5 miliar 18,4 miliar
488 Bank Mandiri 6 miliar 1,3 miliar 60,4 miliar 17,6 miliar
700 Bank Central Asia 3,1 miliar 0,9 miliar 35,9 miliar 21,1 miliar
726 Telkom Indonesia 7,6 miliar 1,3 miliar 11,1 miliar 14,9 miliar
969 Bank Negara Indonesia 3,1 miliar 0,6 miliar 32,9 miliar 7,8 miliar
1.351 PGN 2,2 miliar 0,7 miliar 3,5 miliar 10,1 miliar
1.399 Gudang Garam 4,2 miliar 0,5 miliar 3,4 miliar 11,5 miliar
1.636 Bank Danamon Indonesia 2,4 miliar 0,4 miliar 15,6 miliar 4,6 miliar
1.674 Semen Gresik 1,6 miliar 0,4 miliar 1,7 miliar 8,1 miliar
1.898 Bumi Resources 4,4 miliar 0,3 miliar 8,8 miliar 5,4 miliar

Bukan pertama kali

Masuknya sejumlah perusahaan besar Indonesia di jajaran raksasa bisnis global sebenarnya bukan pertama kali. Sebelumnya, Boston Consulting Group juga melansir 50 perusahaan asal Asia Tenggara yang diprediksi menjadi pemain tingkat regional bahkan global.

Dari 50 perusahaan tersebut, sebanyak 12 perusahaan juga berasal dari Indonesia.

Seperti dikutip dari laporan The Companies Piloting a Soaring Region yang diperoleh VIVAnews, ke-12 perusahaan asal Indonesia tersebut berasal dari beragam sektor–mulai dari industri rokok hingga penerbangan.

Perusahaan Indonesia di bidang sumber daya alam menjadi penyumbang terbanyak calon perusahaan kelas dunia. Selain pertambangan, industri yang masuk dalam kategori ini adalah kimia dan pertanian. Nama-nama seperti PT Adaro Energy Tbk, PT AKR Corporindo Tbk, PT Bayan Resources Tbk, dan Golden Agri Resources adalah perusahaan-perusahaan calon penguasa pasar Asia Tenggara dan dunia.

Selain sumber daya alam, sektor bisnis lain yang menghasilkan perusahaan kelas dunia berasal dari industri barang-barang konsumsi. Di industri ini terdapat nama-nama besar seperti PT Garuda Food, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Mayora Indah Tbk, dan ABC Group.

Perusahaan besar lainnya di sektor ini adalah PT Djarum, yang telah mengantarkan dua saudara kandung, Michael dan Budi Hartono sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Dari sektor manufaktur terdapat perusahaan raksasa otomotif, PT Astra International Tbk dan anak perusahaannya, PT Astra Otoparts Tbk. Satu nama lagi adalah perusahaan penerbangan nasional Wings Air yang merupakan anak usaha Lion Air. Wings Air memiliki 40 pesawat jenis ATR dan menempatkannya sebagai operator pesawat angkutan terbesar untuk jenis tersebut.

10 besar dunia

Selain menyuguhkan 10 perusahaan besar asal Indonesia yang masuk daftar “The Global 2.000”, majalah Forbes menempatkan 10 teratas perusahaan raksasa dunia. Krisis global ternyata tidak menyurutkan kinerja perusahaan-perusahaan itu untuk memacu laba.

Mereka masih mencatat pertumbuhan penjualan dan laba sebesar dua digit pada 2011.

Peringkat tahun ini meliputi 66 negara, dengan empat di antaranya adalah negara baru. Amerika masih mendominasi daftar itu, dengan menempatkan 524 perusahaan. Sementara itu, Jepang menyusul dengan 258 perusahaan.

China berada di posisi ketiga dengan menambah 15 perusahaan baru tahun ini. Negara lain yang juga menambah jumlah perusahaan mereka dalam daftar 2.000 korporasi besar dunia adalah Korea Selatan (68), India (61), dan Inggris (93).

Berikut daftar lengkap 10 perusahaan terbesar dunia itu:

No  Perusahaan  Negara    Penjualan  Laba      Aset       Nilai Pasar
1 Exxon Mobil AS US$433,5 miliar US$41,1 miliar US$331,1 miliar US$407,4 miliar
2 JPMorgan Chase AS US$110,8 miliar US$19 miliar US$2.265 miliar US$170,1 miliar
3 General Electric AS US$147,3 miliar US$14,2 US$ US$717,2 miliar US$213,7 miliar
4 Royal Dutch Shell Belanda US$470,2 miliar US$30,9 miliar US$340,5 miliar US$227,6 miliar
5 ICBC China US$82,6 miliar US$25,1 miliar US$2.039 miliar US$237,4 miliar
6 HSBC Holdings Inggris US$102 miliar US$16,2 miliar US$2.550 miliar US$164,3 miliar
7 PetroChina China US$301,1 miliar US$20,6 miliar US$304,7 miliar US$294,7 miliar
8 Berkshire Hathaway AS US$143,7 miliar US$10,3 miliar US$392,6 miliar US$202,2 miliar
9 Wells Fargo AS US$87,6 miliar US$15,9 miliar US$1.313 miliar US$178,7 miliar
10 Petrobas-Petroleo Brasil Brasil US$145,9 miliar US$20,1 miliar US$319,4 miliar US$180 miliar

Pengaruh Globalisasi Pada Perkembangan Ekonomi Indonesia

 

 
 
 
 
Globalisasi merupakan proses dimana hubungan sosial dan saling ketergantungan antarnegara dan antarmanusia menjadi semakin tidak berbatas. Sedangkan menurut  Selo Soemardjan, Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah – kaidah yang sama. Globalisasi terjadi pada bidang informasi, ekonomi, serta budaya. Sudah sejak lama pemerintah Indonesia menggembar – gemborkan tentang globalisasi itu sendiri. Dengan harapan masyarakat dan pelaku industri siap menghadapi segala dampak dari globalisasi terutama pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia.
 
Pasar bebas merupakan salah satu bentuk nyata dari globalisasi ekonomi. Pengaruh dari globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia diantaranya adalah tumbuhnya kreativitas para pelaku ekonomi Indonesia serta semakin mendunia produk – produk buatan Indonesia. Dengan adanya globalisasi, para pelaku ekonomi, memang dituntut untuk semakin kreatif menciptakan produk – produk yang tidak hanya mampu bersaing dengan sesama produk buatan dalam negeri, namun juga harus mampu bersaing dengan produk – produk dari negara lain. Tanpa adanya pengembangan produk, sudah pasti produk mereka tidak akan bisa laku di pasaran. Terlebih sejak CAFTA (China Asia Free Trade Assosiation) diberlakukan, barang – barang dari China mulai membanjiri pasar Indonesia. Tidak hanya bentuk serta tampilan produk yang menarik, namun juga harga yang ditawarkan sangat murah bila dibandingkan dengan produk – produk buatan Indonesia. 
 
Sebenarnya banyak pihak yang menyayangkan mengapa Indonesia ikut menandatangani CAFTA. Tidak hanya karena dunia industri Indonesia dianggap belum siap menghadapi pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia, namun juga karena kondisi internal ekonomi Indonesia yang masih belum stabil. Namun dengan alasan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang jauh tertinggal dalam bidang ekonomi bila tidak turut serta dalam perjanjian CAFTA tersebut, maka siap atau tidak, akhirnya Indonesia terlibat dalam pasar bebas Asia.
 
Bagi beberapa pelaku industri, terutama yang selama ini mengandalkan bahan baku import dari China, malah menjadi pihak yang diuntungkan atas masuknya Indonesia ke dalam pasar bebas Asia. Mereka bisa mendapatkan bahan baku dengan harga yang jauh lebih murah karena dilakukannya perjanjian penghapusan tarif import sehingga bisa menekan banyak biaya yang harus mereka keluarkan. Dengan mendapatkan bahan baku yang murah, maka secara otomatis kegiatan industri bisa semakin berkembang. Itu merupakan contoh positif dari pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi Indonesia.

Aside  —  Posted: December 10, 2012 in Uncategorized

PERKEMBANGAN BISNIS RITEL MODERN

Posted: December 9, 2012 in Uncategorized
PERKEMBANGAN BISNIS RITEL MODERN
 
Pada 2009 satu lagi ritel asing yaitu Grup Lotte dari Korea Selatan masuk ke Indonesia, dengan mengakuisisi Makro yang sebelumnya dimiliki oleh SHV Holding dari Belanda senilai US$ 223 juta. Setelah diakuisisi kini Makro berubah menjadi Lotte Mart. Grup Lotte manjalankan bisnis ritel sejak 1979, mengoperasikan lebih dari 90 gerai di berbagai negara diantaranya Cina, Rusia, Vietnam, dan India.
 
Peta persaingan ritel semakin ketat, setelah 40% saham Carrefour yang merupakan leader hypermarket diakuisisi oleh CT Corporation anak perusahaan Grup Para dengan nilai sekitar US$ 350 juta pada 2010. Grup Para milik Chairul Tanjung, seorang pengusaha lokal yang lebih dulu sudah menguasai bisnis televisi, perbankan, asuransi, pembiayaan dan sebagainya.     
 
Dalam lima tahun terakhir peningkatan omset ritel modern cukup pesat, hal ini juga didukung oleh pertumbuhan jumlah ritel yang pesat yaitu mencapai 18.152 gerai pada 2011, dibandingkan 10.365 gerai pada 2007. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10-15% per tahun. Penjualan ritel pada 2006 masih sebesar Rp 49 triliun, namun melesat hingga mencapai Rp 100 triliun pada 2010. Sedangkan pada 2011 pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama yaitu 10%-15% atau mencapai Rp 110 triliun, menyusul kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat yang relatif bagus. Jumlah pendapatan terbesar merupakan konstribusi dari hypermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket. 
 
Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Dalam sepuluh tahun terakhir bisnis ritel modern dengan format hypermarket, supermarket dan minimarket menjamur, menyusul maraknya pembangunan mall atau pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Peritel besar seperti hypermarket dan department store menjadi anchor tenant yang dapat menarik minat pengunjung. Bahkan kini bisnis ritel mulai merambah ke kota-kota kabupaten terutama jenis supermarket dan minimarket. Saat ini bisnis ritel tumbuh pesat di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. 
 
Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi Penanaman Modal Asing (PMA), maka sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke Indonesia.  Masuknya ritel asing dalam bisnis ini, menunjukkan bisnis ini sangat menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hypermarket asing yang semakin ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal. Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta saja, misalnya Carrefour dalam lima tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta termasuk ke Yogyakarta, Surabaya, Palembang dan Makassar. Namun saat ini di wilayah DKI pemberian izin minimarket diperketat karena sudah terlalu banyak. 
 
Keadaan ini mendorong peritel lokal yang sudah lebih dulu menguasai pasar, misalnya Matahari Group yang sebelumnya kuat pada bisnis department store, mengembangkan usahanya memasuki bisnis hypermarket. Demikian juga Hero yang sebelumnya kuat dalam bisnis supermarket, akhirnya ikut bersaing dalam bisnis hypermarket. Bahkan Hero mengubah sejumlah gerai supermarketnya menjadi format hypermarket. 
 
Hingga saat ini, pangsa pasar modern mencapai 30%, sedangkan pasar tradisional menguasai sekitar 70%. Hal ini menunjukkan peluang bisnis ritel (pasar modern) cukup menjanjikan, setiap tahun selalu muncul dan berdiri gerai baru ritel di kota-kota besar. Saat ini pengusah ritel mulai melebarkan sayap diluar pulau Jawa seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku.  Sementara itu, peritel besar seperti Carrefour dan Giant memiliki pasar ritel lebih luas dibandingkan competitor lain, sebab selain bermain di segmen hypermarket, kedua peritel ini juga bersaing di segmen supermarket. 
 
Dengan membaiknya ekonomi Indonesia ditahun mendatang diperkirakan akan semakin banyak peritel asing masuk ke Indoneisa, demikian juga pemain lama menjadi semakin ekspansif menggarap setiap potensi pasar yang ada. Akibatnya persaingan akan semakin ketat menyebabkan semua pemain berusaha keras menjalankan berbagai strategi untuk mengalahkan persaingan yang kadang menjadi tidak fair lagi. 
 
Struktur bisnis pasar modern
 
Bisnis ritel telah menjadi bisnis global dan Indonesia tidak terhindarkan dari serbuan ritel asing. Dengan kekuatan yang besar dari segi keuangan, manajemen, maupun jaringannya ritel modern raksasa masuk ke Indonesia.  Maka terjadi  perubahan peta bisnis yang cukup signifikan dalam lima  terakhir akibat jatuh bangunnya bisnis ritel. 
 
Serbuan ritel modern di Indonesia bukan kali ini terjadi, setiap dekade muncul format baru ritel modern yang menggeser ritel tradisional. Ketika diawal tahun 1980’an supermarket mewah mulai menyerbu Jakarta, maka pasar tradisionil seperti pasar Cikini, pasar Santa dan pasar lain yang melayani penduduk menengah atas di pusat kota Jakarta mulai kehilangan pamor 
 
Penyebaran supermarket yang gencar di awal tahun 1990’an mulai mempersempit ruang gerak pasar dan ritel tradisionil. Pada waktu itu diberbagai kawasan pemukiman di Jabotabek dan kota besar lainnya di P. Jawa supermarket mulai menjamur.
Memasuki pertengahan tahun 1990’an supermarket mulai mendapat saingan dari hypermarket dengan munculnya Makro (sekarang bernama Lotte Mart). Format pasar modern yang ditawarkan oleh Lotte Mart berbeda dengan supermarket terutama dari luas dan produk yang ditawarkan,sedangkan dari segi pelayanan format hypermarket sangat berbeda dengan supermarket karena pada Lotte Mart pelayanan dibuat seminim mungkin untuk mengejar harga yang murah. 
 
Bersamaan dengan itu mulai berkembang supermarket skala kecil yaitu format minimarket yang mampu bersaing dengan format supermarket. Kedua format pasar modern ini  sama-sama mempunyai jaringan yang kuat sehingga minimarket dapat menawarkan harga yang bersaing dengan supermarket dan kenyaman yang sama bahkan minimarket bisa  berada lebih dekat  dengan lokasi pelanggannya.
 
Dari kelompok minimarket ini jaringan Indomaret dan Alfa mulai merajai segmen pasar dari ritel bisnis ini. Hanya dalam waktu yang relatif singkat jumlah gerai kedua jaringan minimart ini telah menggurita. 
 
Namun serangan yang hebat terhadap keberadaan supermarket adalah ketika masuknya format baru yaitu hypermarket yang dikembangkan oleh  Carrefour dari Perancis. Dengan skala gerainya yang jauh lebih besar, demikian juga pilihan item  jauh lebih beraneka ragam, ditambah dengan harga yang relatif lebih murah dari supermarket, maka posisi supermarket mulai tergeser. Apalagi  hypermarket tersebut berada dilokasi yang sangat strategis dipusat bisnis dan pusat pemukiman kalangan menengah atas yang menjadi target pasar dari supermarket selama ini.
 
Akibat serangan dari format ritel seperti hypermarket dan minimarket, maka kelompok Hero yang sebelumnya merajai bisnis supermarket mulai terdesak dan untuk bisa bertahan menghadapi persaingan itu, kelompok ini mulai mengembangkan jaringan hypermarketnya menggandeng jaringan ritel Giant Retail Sdn Bhd dari Malaysia. Menyadari Jakarta sudah padat ditempati Carrefour maka Giant menempatkan pijakan awalnya  di kota Surabaya dan di Tangerang yang belum dimasuki hypermarket lainnya. Selain itu kelompok Hero juga membangun jaringan minimarketnya melalui jaringan ritel Starmart. 
 
Tidak semua jaringan supermarket mampu bertahan. Misalnya jaringan supermarket Tops milik jaringan ritel Aholds dari Belgia yang banyak beroperasi di daerah Jawa Barat  akhirnya diakuisi oleh kelompok Hero. 
 
Format bisnis 
 
Ritel modern memiliki banyak format yang berkembang sesuai dengan situasi pasar di dalam negeri maupun sebagai dampak perubahan pasar di dunia. Format ritel modern ini masih terus berkembang setiap saat masih selalu terjadi perubahan. Di Indonesia format ritel belum diatur secara baku, atau kadang kala peraturan yang ada pun tidak mencerminkan keadaan bisnis ritel yang ada. 
 
Secara umum format bisnis ritel yang saat ini berkembang pesat di Indonesia adalah hypermarket, supermarket, minimarket atau convenience store , departemen store, dan specialty store.  
 
Hypermarket, supermarket, dan minimarket pada dasarnya perkembangan dari toko kelontong  dan pasar tradisionil, sehingga kemudian ritel modern ini sering diberi istilah pasar modern. Perbedaan untamanya terletak pada luas ruangan, range produk dan jasa yang ditawarkan. Dalam tulisan ini yang dimaksud ritel modern dibatasi pada hypermarket, Supermarket dan Minimarket.
 
Hypermarket 
Hipermarket adalah bentuk pasar modern yang sangat besar, dalam segi luas tempat dan barang-barang yang diperdagangkan. Selain tempatnya yang luas, hipermarket biasanya memiliki lahan parkir yang luas. Konsep hypermarket ini pertama kali diperkenalkan oleh carrefour dan kemudian berkembang dalam berbagai modifikasi. Dalam kategori ini juga dimasukkan toko grosir seperti Makro yang mempunyai format yang  hampir sama dengan hipermarket yang lain namun target pasarnya bukan untuk perorangan tapi untuk pedagang dan untuk kegiatan usaha seperti restoran, hotel, atau catering. Juga penjualannya dalam satuan yang lebih besar.
 
Hypermarket dapat dikategorikan dengan jumlah kasir per toko yang lebih dari 20 orang dan produk yang dijual sekurangnya 25.000 item temasuk kebutuhan sehari-hari, alat-alat elektronik dan furnitur.  Carrefour menyediakan 50.000 jenis produk di setiap gerainya, Giant 35.000-50.000 jenis produk. Tetapi Makro hanya menyediakan sekitar 15.000 jenis produk. Di toko grosir seperti Makro, konsumen bisa mendapatkan harga lebih murah karena harus membeli barang dalam jumlah lebih banyak, misaln¬ya untuk pembelian pasta gigi yang harga persatuannya murah, namun mesti dibeli dalam jumlah minimal satu lusin. Karena itu konsumen potensial gerai ritel grosiran tersebut adalah pemilik warung, toko kecil, hotel, restoran maupun pengusaha katering.
 
Supermarket
Supermarket lebih dulu hadir dibandingkan Hypermarket dan dikenal sebagai bentuk awal pasar modern. Supermarket berbeda dari pasar traditional diantaranya karena bersifat swalayan.
 
Minimarket
Minimarket dikenal juga sebagai convenience store adalah perkembangan dari toko kelontong yang menawarkan kenyamana dan jasa seperti supermarket tapi dalam skala yang lebih kecil. 
 
 
Perkembangan jumlah gerai
 
Dalam periode lima tahun terakhir dari 2007-2011 jumlah gerai usaha ritel di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 17,57% per tahun.  Pada 2007 jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebesar 10.365 gerai, kemudian pada 2011 diperkirakan akan mencapai 18.152 gerai yang tersebar di hampir seluruh kota-kota di Indonesia. 
 
Jumlah gerai hypermarket dari hanya 99 pada 2007 meningkat menjadi 154 pada 2010. Sementara hingga akhir 2011 diperkirakan akan bertambah menjadi 167 gerai. 
 
Sedangkan pertumbuhan jumlah supermarket relatif menurun. Jika pada 2007 tercatat 1.377 gerai maka pada 2010 mengalami penurunan menjadi sekitar 1.230. Penurunan tersebut disebabkan beberapa supermarket terpaksa tutup karena kelah bersaing dengan minimarket. Sementara sebagian gerai supermarket diubah menjadi gerai hypermarket. 
 
Kenaikan jumlah gerai ritel terutama dipicu oleh pertumbuhan gerai minimarket yang fenomenal.  Jika pada 2007 total gerai minimarket hanya 8.889 maka pada 2010 melonjak pesat hingga mencapai sekitar 15.538 buah. Sedangkan pada 2011 diperkirakan akan meningkat menjadi 16.720 gerai. Pertumbuhan bisnis minimarket ini didominasi oleh pertumbuhan outlet Indomaret dan Alfamart, dengan frekuensi pertambahan jaringan relatif cepat dan penyebaran yang cukup luas, baik melalui pola pengelolaan sendiri (reguler) maupun melalui sistem waralaba (franchise).
 
 
Terbanyak di Jakarta
 
Sebagian besar pasar modern baik lokal maupun asing masih terpusat di pulau Jawa, yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan merupakan pusat bisnis di Indonesia. 
 
Pada 2010 perkiraan jumlah gerai pasar modern di Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok) sekitar 38,1% (6.916 gerai), Jawa Barat 14,08% ( gerai), Jawa Timur 12,12% (2.556 gerai), Jawa Tengah 10,2% (1.852 gerai). Setelah pulau Jawa, wilayah Sumatra menempati urutan kedua terbesar yaitu sekitar 8,2% (1.488 gerai).
 
Jakarta sudah jenuh
 
Jakarta mendominasi jumlah gerai pasar modern untuk seluruh format. Dari total jumlah hypermarket di Indonesia pada 2010 sebanyak 152 buah, diantaranya sekitar 44 buah atau 28% ada di Jakarta, supermarket sekitar 21% dan minimarket sekitar 40% berada di Jakarta.
 
Melihat pertumbuhan ritel yang terus menggurita,  dimana jumlah hypermarket dianggap sudah terlalu banyak.  Untuk membenahi keberadaan hypermarket yang kian marak di Jakarta, pada Juli 2006 Pemprov DKI telah merevisi Peraturan Daerah (Perda) No 2/2002 tentang perpasaran swasta.  
 
Berdasarkan Perda No.2/2002, izin lokasi usaha ritel modern harus berjarak dari pasar lingkungan yaitu peritel seluas 100 – 200 m2 harus berjatak 0,5 km, peritel seluas 1.000 – 2.000 m2 harus berjarak 1,5 km, peritel seluas 2.000 – 4.000 m2 harus berjarak 2 km dan peritel seluas > 4.000 m2 harus berjarak 2,5 km.   
 
Sebagai salah satu alternatif solusi masalah zonasi bagi pelaku pasar modern skala besar, maka kini hypermatket diharuskan berada dalam mall. Sebab izin pendirian mall diberikan setelah memenuhi aturan jarak dengan pasar tradisional. 
 
Sejauh ini, tampaknya izin lokasi ini tidak ditaati oleh sejumlah pemilik hypermarket. Hal ini karena pengusaha masih menggunakan kekuatan modal, sehingga dapat mempengaruhi pihak otoritas yang tidak tegas. Contohnya, Plaza Semanggi dengan Pasar Benhil berjarak kurang dari 2,5 kilometer. Bahkan Surat Keputusan Gubernur No 44 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di DKI, dibatalkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) karena diprotes pengelola hypermarket. 
 
Untuk tahun ini Pemprov DKI hanya akan mengeluarkan izin usaha ritel seluas > 5.000 m2 jika berada di gedung pusat perbelanjaan/mall. Pemprov tidak akan memperpanjang izin ritel yang dikelola dalam gedung tersendiri (stand alone). 
 
Namun, rencana Pemprov DKI yang melarang pembukaan toko ritel besar di gedung sendiri, mendapat penolakan dari beberapa peritel besar seperti Carrefour dan Giant. 
 
Sebagai gambaran, dari beberapa hypermarket yang berada di Jakarta hanya Makro yang seluruh outletnya menempati gedung sendiri. Sedang Carrefour hanya memiliki 5 gerai yang stand alone dan Giant 3 gerai saja. Sebagian besar gerai Carrefour, Giant dan Hypermart lainnya berada di dalam shopping centre/mall sebagai anchor tenant.
 
Ritel asing semakin kuat
 
Kehadiran Carrefour sejak 1998 mengubah peta persaingan bisnis ritel di Indonesia. Sebelum Carrefour, ritel asing yang masuk ke Indonesia adalah Walmart, Makro, dan Continent yang akhirnya diambil alih Carrefour. 
 
Menyusul kemudian Dairy Farm International Giant Retail Sdn Bhd  dari Malaysia yang menggandeng PT.Hero Supermarket Tbk mendirikan hypermarket Giant. Sebelumnya Hero Group sangat berpengalaman dan merajai bisnis supermarket di Indonesia, melalui jaringan Hero supermarket. 
Suksesnya investor asing dengan format ritel hypermart, mendorong peritel lokal seperti Matahari Group untuk ikut bersaing dalam bisnis hypermarket, dengan membangun jaringan hypermarketnya yaitu Hypermart. Awalnya Matahari Group sangat berpengalaman dan dikenal cukup berhasil dengan  jaringan department store Matahari yang memiliki gerai di banyak kota besar di Indonesia. 
 
Pada 2009 Lotte Group dari Korea menyerbu Indonesia dengan langkah strategis yaitu mengambil alih Makro yang awalnya dimiliki oleh SHV Holding NV asal Belanda. Untuk akuisisi tersebut Lotte mengeluarkan dana sekitar US$ 223 juta. Lotte Group dirintis oleh Shin Kyuk Ho pada 1973, kini memilki 45 anak usaha yang bergerak dalam bidang  perhotelan, makanan, distribusi, ritel, kimia, dan jasa konstruksi. Grup ini merambah bisnis ritel sejak 1979, mengoperasikan lebih dari 90 gerai di berbagai negara, antara lain Cina, Rusia, Vietnam, dan India. Lotte Group adalah grup bisnis kelima terbesar di Korea Selatan dengan total aset mencapai 31 miliar Euro dan pendapatan bersih sebesar 23 miliar Euro pada 2007.
 

Namun demikian, dominasi asing mulai berkurang seiring dengan pengambilalihan Carrefour oleh Grup Para pada akhir 2010.   Para Group yang dikenal juga dengan CT Corporation milik Chairul Tanjung, pengusaha pribumi mengakuisisi 40 persen saham PT Carrefour Indonesia. Saat ini Trans Ritel menjadi pemegang saham tunggal terbesar, pemegang saham lainnya adalah Carrefour SA (39%), Carrefour Nederland BV (9,5 persen), dan Onesia BV (11,5 persen). Pembelian 40% saham tersebut sekitar US$350 juta, dimana CT Corporation mendapat pinjaman dari Credit Suisse, Citibank, ING dan JP Morgan. pemegang saham lainnya adalah Carrefour SA (39%), Carrefour Nederland BV (9,5 persen), dan Onesia BV (11,5 persen)

 

Sumber : http://www.datacon.co.id/Ritel-2011ProfilIndustri.html

Sejarah Perkembangan Saham di Dunia

Halo Saudara, saat ini kita mempelajari tentang saham. Saham itu sebenarnya apa sih?? Katakanlah dua buah toko kelontong dari kecil hingga besar ingin membuat sebuah unit usaha yang dinamakan perusahaan. Nah faktanya kedua toko itu harus menyertakan modal disetor, memprosesnya, membuat akte pendirian perusahaan atau PT. Modal yang disetor akan diubah menjadi surat-surat  yang disebut surat penyertaan. Jadi modal dalam bentuk uang itu diubah menjadi surat-surat yang penyertaan. Surat penyertaan itu disebut saham.

Ide dasar tentang saham adalah pembagian modal yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah usaha. Memulai sebuah usaha dari awal tidaklah mudah, ada resiko-resiko yang harus ditanggung oleh para pemilik modal dalam menjalankan usahanya. Dengan berbagi penyertaan modal, pada prinsipnya para pemilik modal juga berbagi resiko sehingga resiko yang ditanggung oleh masing-masing pemilik modal berkurang secara proporsional. Pemilik modal yang menyertakan modal lebih besar tentu menanggung resiko yang lebih besar, sebagai kompensasinya ia akan menerima keuntungan dengan proporsi lebih besar ketimbang pemilik modal lainnya. Agar penghitungan proporsi tersebut sah, dibuatlah lembaran dokumen persetujuan untuk menguatkan hak-hak para pemilik modal, yang sekarang dikenal sebagai lembaran saham.

Kaum Publican (± 3 SM): Aplikasi Bagi Hasil Pertama di Dunia

Ide tentang pembagian penyertaan modal dan pembagian keuntungan sudah dikenal sejak lama. Kita dapat menelusuri sejarah tentang saham hingga zaman Imperium Roma. Pada zaman tersebut, pemerintah Roma mengontrakkan layanan kepada sekelompok pengusaha swasta yang disebut kaum publican. Kaum Publican adalah kontraktor umum yang berperan sebagai penyedia jasa yang dibutuhkan oleh pemerintah, seperti mengurus persediaan dan logistik militer, mengelola pajak suatu wilayah atau pelabuhan, dan pengerjaan proyek pembangunan fasilitas umum.

Sistem yang berlaku dalam penentuan proyek kepada Kaum Pulican adalah sistem tender, dimana Kaum Publican memberikan penawaran harga kepada pemerintah. Sebagai contoh adalah pengelolaan pajak. Wilayah Imperium Roma terbentang luas dari Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara.  Pada saat itu pemerintah terfokus pada ekstensi wilayah jajahan dan penguatan militer, namun kekurangan sumber daya manusia untuk mengumpulkan pajak di wilayah yang luas tersebut, oleh karena itu pengumpulan pajak diserahkan kepada pihak swasta. Setiap beberapa tahun pemerintah melakukan lelang untuk pengumpulan pajak di daerah jajahannya dalam tenggang waktu yang telah ditentukan, pemenang dari lelang adalah orang yang dapat memberikan penawaran tertinggi pajak yang dapat dikumpulkan dari daerah tersebut. Pembayaran pajak kepada pemerintah dilakukan pada akhir tenggang waktu yang ditentukan, dengan nominal yang diajukan pada saat penawaran. Kaum publican yang melakukan pengumpulan pajak akan mendapatkan komisi dari pajak tersebut. Selain itu setiap kelebihan yang diperoleh dari pengumpulan pajak akan dihitung sebagai keuntungan, sebaliknya jika pengumpulan pajak ternyata lebih kecil daripada jumlah yang harus dibayarkan mereka harus menutupi kekurangan tersebut.

Sistem tersebut jelas memberikan resiko yang besar kepada kaum publican. Oleh karena itu Kaum Publican didominasi oleh kaum kapitalis yang memiliki modal. Selain itu, mereka sering membentuk kerjasama dalam melakukan pengumpulan pajak sehingga resiko yang ditanggung oleh masing-masing orang menjadi lebih kecil. Perjanjian kerjasama ini disebut “socii” untuk kerjasama yang melibatkan banyak pihak, dan “particulae” untuk kerjasama yang melibatkan sedikit pihak. Peran Kaum Publican berangsur-angsur berkurang setelah Imperium Roma berhenti melakukan ekspansi dan membenahi sistem birokrasi dalam pemerintahannya.

Stora Kopparberg (850-an s.d. sekarang): Dokumen Saham Pertama di Dunia

Eksploitasi tembaga di Falun, Swedia dilakukan sejak tahun 850-an oleh dan tambang tembaga mulai beroperasi sejak 1080 yang dikelola oleh penduduk lokal. Dokumen tertulis pertama yang menjelaskan tentang tambang tersebut dikenal sebagai Deed of Exchange tertanggal 16 Juni 1288. Dokumen ini disahkan oleh Raja Swedia, Magnus Biggerson. Uskup Kepala Uppsala dan tiga uskup lainnya. Dalam dokumen ini dijelaskan pembagian seperdelapan hasil dari tambang kepada  Peter, seorang Uskup dari Västerås. Pada saat itu pengelolaan dan administrasi tambang bukan lagi dilakukan secara parsial oleh penduduk lokal, namun dilakukan oleh sebuah organisasi yang terorganisir dengan baik. Organisasi tersebut kebanyakan terdiri dari para Bangsawan Swedia dan pedagang-pedagang dari luar negeri, terutama pedagang-pedagang dari Lübeck, Jerman Utara yang banyak berinvestasi dalam pendirian tambang-tambang tersebut.

Dokumen lain yang dapat menggambarkan kondisi pada waktu itu adalah Charter of Privileges yang dikeluarkan oleh Raja Magnus Eriksson pada tahun 1347 yang mengatur perihal operasi tambang di Falun. Raja Magnus Eriksson membentuk organisasi pekerja tambang yang dikenal sebagai “Bergsmännen” yang artinya manusia gunung. Raja kemudian menunjuk empatbelas orang dari para pekerja tersebut untuk duduk dalam Dewan Tambang dan dua diantaranya ditunjuk menjadi Menteri Urusan Tambang. Tugas dari Menteri Urusan Tambang dan Dewan Tambang adalah untuk memastikan bahwa tambang tetap beroperasi sesuai dengan undang-undang.

Swedia menjadi negara superpower pada abad ke-17. Ekonomi Swedia digerakkan oleh tiga komoditi: tembaga, besi, dan tar, namun tembaga merupakan faktor yang paling berpengaruh. Sebagian besar hasil tambang tembaga diekspor ke luar negeri, tembaga Swedia bahkan memainkan peranan penting di pasar Eropa pada waktu itu. Saham perusahaan-perusahaan tambang di Swedia menjadi incaran para kaum kapitalis. Tahun 1616, Raja Gustav II Adolf mengeluarkan undang-undang yang membatasi jumlah saham yang beredar menjadi 1200 lembar dan jumlah kepemilikan saham menjadi 75 orang. Pada tahun 1619, perusahaan tambang pertama didirikan oleh pihak swasta, namun pihak kerajaan tetap memainkan peranan penting walaupun kepemilikannya dalam perusahaan tambang telah berkurang. Pada abad ke-18, pamor tembaga mulai meredup. Perusahaan-perusahaan tambang tembaga mulai beralih pada pengeksplorasian bijih besi dan mengakuisisi perusahaan-perusahaan tambang dan pengolahan besi.

Tahun 1862, seluruh perusahaan tambang dan tambang-tambang kecil yang dikelola oleh individu bergabung membentuk sebuah perusahaan swasta, Stora Kopparbergs Bergslag. Hal tersebut juga menandai akhir pengaruh pihak kerajaan dalam perusahaan tambang dan pembubaran Kementrian Pertambangan. Pada tahun 1888, Stora Kopparberg menjadi Aktiebolag (Perusahaan Terbatas milik publik), tiap lembaran saham yang seluruh berjumlah 1200 lembar dikonversikan menjadi masing masing menjadi 8 lembar saham senilai 1000 crown Swedia. Hal tersebut membuat nilai perusahaan menjadi 9,6 juta crown Swedia.

Sejarah mengenai Stora Kopparberg adalah sejarah mengenai akuisisi dan alih teknologi. Dalam pengelolaan tambang, perusahaan menyisakan tumpukan kayu hasil pembukaan lahan untuk pertambangan. Untuk mengoptimalkan kayu tersebut, Stora Kopparberg mengakuisisi sebuah usaha penggergajian kayu di Skutskär pada tahun 1885. Pada tahun 1888, perusahaan membangun pembangkit listrik di Kvarnsveden falls untuk menyuplai kebutuhan listrik pengolahan baja di Domnarvet, dan pengolahan kertas yang dibangun belakangan pada tahun 1900. Untuk menambah produksi bijih besinya, Stora Kopparberg mengakuisisi Gysinge Bruks Aktiebolag (1905), Söderfors Bruk Aktiebolag (1907), Gammelstilla, Strömsbergs, Västlands, Hillebola, dan Ullfors (1910-1920).

Pengakuisisian tambang-tambang dan pengolahan-pengolahan bijih besi tersebut juga meningkatkan suplai bahan baku untuk penggergajian kayu dan pengolahan kertas yang dimiliki oleh perusahaan. Pada tahun 1956 produksi tambang besi mencapai 400 ribu ton per tahun, dan produksi hasil hutan mencapai 175 ribu ton per tahun. Stora Kopparbergs terus mengembangkan sayapnya dengan membangun pabrik-pabrik di luar negeri. Pada tahun 1984. Stora Kopparbergs membangun Newton Falls Paper Mill di New York, Amerika, pada tahun yang sama juga perusahaan mengadopsi nama STORA sebagai identitas perusahaan.

Sementara produksi tambang mulai menurun, STORA tetap melakukan merger dengan perusahaan-perusahaan besar penghasil produk-produk hasil hutan di Eropa. Hingga pada awal tahun 1990-an, Manajemen STORA memutuskan untuk berfokus kepada pengolahan produk-produk kehutanan dan mendivestasikan perusahaan-perusahaan yang tidak terkait dengan produk intinya. Pada tahun 1998 STORA melakukan merger dengan perusahaan pengolah hasil hutan dari Finlandia, Enso Oyj, dan berubah nama menjadi Stora-Enso Oyj. Berpusat di Helsinski, dengan jumlah pegawai lebih dari 46.000 orang, Stora-Enso Oyj sekarang ini menjadi perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia dalam konteks kapasitas produksi, kelima terbesar di dunia dalam konteks pendapatan, sekaligus sebagai perusahaan terbuka tertua di dunia yang masih beroperasi hingga sekarang.

Vereinigte Ostindische Compagnie (VOC) – (1602-1799): Pasar Modal Pertama di Dunia

Sejak Vasco Da Gama mempelopori rute perdagangan dari Eropa ke India pada akhir abad ke-15, hubungan perdagangan antar bangsa-bangsa di Eropa dengan bangsa-bangsa di Asia semakin erat. Spanyol dan Portugis yang pertama kali melakukan perdagangan antar bangsa tersebut tampil sebagai penguasa rute perdagangan, sekaligus sebagai penguasa tanah jajahan di Asia dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel. Rempah-rempah yang berasal dari Asia, terutama lada, menjadi komoditi utama perdagangan pada saat itu. Para pedagang melakukan perdagangan kontrak berjangka kepada para retailer yang kemudian mendistribusikannya ke negara-negara Eropa lainnya.

Dengan sistem kontrak berjangka tersebut membuat para retailer harus menanggung resiko atas pengiriman dari Asia ke Eropa, seringkali kualitas dan kuantitas yang diterima oleh para retailer tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati di awal. Pada akhir abad ke-16, para pedagang dari Belanda, sebagai retailer terbesar rempah-rempah pada saat itu, memutuskan untuk mengambil alih perdagangan rempah-rempah yang dikuasai oleh Portugis dan Spanyol. Mereka kemudian bergabung membentuk Brabantse Compagnie, Rotterdamse Compagnie, dan  Compagnie van Verre. Akibat dari keputusan tersebut, persaingan antara para pedagang-pedagang di Eropa menjadi semakin ketat. Ketika persaingan antar pedagang memanas, pihak pemerintah turut campur dengan mempersenjatai armada-armada yang dikirimkan dalam misi dagang, akibatnya perang antar negara-negara di Eropa tidak terelakkan lagi. Hasilnya harga rempah-rempah menjadi jatuh.

Penurunan harga rempah-rempah dan ketidakamanan dalam perdagangan memaksa para pengusaha Belanda untuk bekerjasama dan bergabung menjadi sebuah perusahaan. Pada tanggal 20 Maret 1602, atas saran Gubernur Jendral Prinz Johann Moritz von Nassau (1606 – 1679), tiga perusahaan besar di Belanda bergabung membentuk sebuah perusahaan berskala nasional yang dikenal sebagai “Vereinigte Ostindische Compagnie” (VOC). Pada mulanya VOC membuka enam kantor cabang: Amsterdam sebagai kantor pusat perdagangan, Seeland, Delft, Rotterdam, Hoorn dan Enkhuizen. Setiap cabang menunjuk calon Direksi hingga berjumlah 75 orang sebagai perwakilan, dari ke-75 calon ini dipilih 17 orang yang menjadi Direktur Eksekutif perusahaan.

Modal awal yang disertakan dalam pembentukan perusahaan tersebut adalah sebesar 6.424.588 Guilders, jumlah yang besar pada saat itu. Kunci sukses VOC dalam penggalangan modal adalah keputusan yang diambil oleh para pemilik untuk membuka akses kepemilikan saham kepada publik. Lembaran-lembaran saham tesebut terjual dengan cepat dengan harga nominal 3000 Guilders, dan dapat diperjualbelikan. Harga nominal tersebut tidak ditentukan oleh pemerintah, namun oleh perusahaan independen yang berperan sebagai reseller dalam memperjualbelikan saham tersebut. Penjualan dan pembelian sertifikat saham VOC dikelola oleh dua direktur, yang berpusat di Amsterdam. Oleh karena itu Amsterdam Kontor yang merupakan kantor pusat VOC dikenal sebagai Pasar Modal pertama di Dunia. Selain itu, VOC juga menerbitkan sertifikat obligasi dengan jangka waktu 3 sampai dengan 12 bulan untuk menutupi kebutuhan operasinya.

Kerajaan Belanda memberikan keistimewaan hak-hak kepada VOC dalam melakukan operasinya, seperti: Hak eksklusif untuk berdagang di Tanjung Harapan, hak untuk bernegosiasi tanpa mediasi pemerintah pusat, hak untuk mengeluarkan kontrak dan beraliansi, hak untuk mencetak koin dan mata uang sendiri, serta hak untuk membangun benteng-benteng, menunjuk gubernur, dan membentuk pasukan tentara di daerah jajahan Belanda. Dengan pemberian hak-hak istimewa tersebut, VOC menjadi sebuah “negara dalam negara” dan memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang sangat besar. Daerah kekuasaannya meliputi Pulau Jawa, Kepulauan Maluku, Kepulauan Banda, Ternate, Makasar, Ceylon, dan Tanjung Harapan.

Perusahaan tersebut terus berkembang walaupun terjadi beberapa kerugian-kerugian kecil yang dikibatkan oleh pembajakan di Laut Cina Selatan, cuaca buruk, persaingan dengan pedagang Eropa lainnya, pencurian, dan wabah penyakit yang menyerang awak armada dagangnya. Sampai pertengahan abad ke-18, VOC berhasil menjadi perusahaan monopoli terbesar pada waktu itu. Selama beroperasi, VOC memiliki 150 armada dagang, 40 kapal perang, 20.000 pelaut, 10.000 tentara, dan lebih dari 50.000 penduduk sipil yang dipaksa untuk bekerja pada perusahaan. Perkembangan tersebut juga mendorong pertumbuhan harga saham perusahaan. Pada awal mula perdagangannya, saham VOC telah meningkat 10-15% diatas nilai nominalnya; pada tahun 1622 harganya meningkat 3 kali lipat; dan pada tahun 1721 meningkat hingga 12 kali lipat.

Kerugian paling besar disebabkan oleh inefisiensi dan korupsi yang menjalari tubuh perusahaan. Karena mis-manajemen, VOC terpaksa ditutup dan dinyatakan bangkrut pada tanggal 31 Desember 1799. Pada saat itu nilai sahamnya hanya sebesar 25% dari nilai nominalnya. Pada akhir hayatnya, VOC meninggalkan hutang hingga 110 juta Guilders yang dibebankan kepada pemerintah Belanda. Oleh karena itu, saat ini istilah VOC lebih dikenal sebagai kepanjangan dari Vergann Onder Corruptie yang artinya “hancur karena korupsi”.

Pasar Modal di Amerika: Pertumbuhan, Resesi, dan Alih Teknologi

Kebanyakan perdagangan saham dan sekuritas didominasi oleh perusahaan armada perdagangan dan perdagangan rempah-rempah pada masa-masa awal berdirinya pasar modal. Seperti yang telah disebutkan Belanda merupakan tempat berdirinya Pasar Modal pertama di dunia, lalu diikuti oleh Portugis, Spanyol, Perancis, dan Inggris. Dengan masuknya bangsa Inggris, yang memiliki armada perang terkuat di dunia pada saat itu – the British Royal Navy – dalam percaturan perdagangan rempah-rempah dunia, maka lalu lintas perdagangan mulai beralih ke Inggris.

Pasar Modal London memulai debutnya dari pasar terbuka (outdoor market) di jalan Exchange Alley. Di jalan tersebut para broker melakukan transaksi jual beli saham-saham perusahaan-perusahaan perkapalan dan perdagangan Inggris. Pada tahun 1725, transaksi mulai beralih dari jalanan ke kedai kopi Jonathon’s Coffee House, perdagangan saham pada saat itu masih bersifat non-formal, baru setelah sistem perdagangan dibakukan pada tahun 1773, administrasi perdagangan saham menjadi lebih tertata dan namanya berubah menjadi The Stock Exchange.

Sistem perdagangan saham dikenalkan di Amerika oleh pendatang-pendatang dari Inggris di wiayah koloninya. Pada mulanya perdagangan saham pada koloni Inggris masih terpusat di London. Namun setelah Revolusi Amerika, dan kelahiran United States of America, semua hubungan diplomatik maupun perdagangan antar Amerika dan Inggris terputus, termasuk semua yang terkait dengan pasar finansial Inggris. Alexander Hamilton, Sekretaris Bendahara (Secretary of the Treasury) pertama Amerika melihat urgensi pendirian pasar modal yang independen di Amerika. Berdasarkan pengalamannya mempelajari pasar modal di Inggris, Hamilton percaya bahwa pasar modal merupakan hal yang esensial dalam membangun dan menjaga kestabilan ekonomi sebuah negara. Selama periode jabatannya, 1789 sampai dengan 1795, ia dedikasikan untuk mempromosikan pembangunan Pasar Modal di Amerika

Atas prakarsa Alexander Hamilton, saham-saham tiga bank besar di Amerika mulai diperjualbelikan, walaupun pada saat itu pasar modal belum lagi terbentuk. Saham-saham tersebut adalah saham the Bank of North America (1781), Bank of New York (1784), dan the First Bank of the United States (1791). Saham-saham ini diterbitkan untuk membayar hutang perang revolusi yang ditanggung oleh the Continental Congress.

Seperti halnya pendahulunya di Inggris, pasar modal di Amerika dimulai di luar ruangan. Pada tahun 1792, John Sutton, Benjamin Jay, dan 22 pemimpin finansial menandatangani kesepakatan pembetukan pasar modal di Amerika. Kesepakatan tersebut ditandatangani di bawah pohon buttonwood di Castle Garden (sekarang Battery Park) dan berisi tentang aturan main, regulasi, serta biaya yang akan dibebankan dalam setiap transaksi. Mereka menamakan organisasi ini The Stock Exchange Office. Organisasi ini bersifat eksklusif, hanya orang-orang tertentu yang menonjol dalam komunitas finansial yang diperkenankan untuk bergabung, dan wanita merupakan kaum yang termarginalkan dalam organisasi ini.

Perdagangan saham di Amerika kemudian berkembang dengan pesat, sehingga pasar modal yang menjadi pusat transaksi menjadi penuh sesak. Pada tahun 1817, para broker saham di New York membentuk the New York Stock & Exchange Board dan meindahkan tempat transaksi ke gedung No.40 di Jalan Wallsteet. Pada tahun 1863, nama organisasi tersebut berubah menjadi the New York Stock Exchange (NYSE) dan berpindah lagi di pusat transaksinya ke gedung di persimpangan Jalan Wallstreet dan Broad Street, hingga hari ini NYSE tetap beroperasi dilokasi tersebut.

Meningkatnya perdagangan saham terjadi seiring dengan berkembangnya ekonomi Amerika dan bertambahnya jumlah perusahaan di Amerika. Pada tahun 1800, Amerika hanya memiliki 295 korporasi besar, diman 20 diantaranya diperdagangkan sahamnya di pasar modal. Pada tahun 1835, perusahaan yang terdaftar di NYSE berkembang menjadi 121 perusahaan, kebanyakan diantaranya adalah perusahaan kereta api yang berkembang pesat pada era tersebut. Pada tahun 1869, jumlah perusahaan yang terdaftar di NYSE bertambah menjadi 145 perusahaan, jenis industrinya pun bermacam-macam, mulai dari perusahaan asuransi, baja, perlengkapan pertanian, perkebunan tembakau, dan perusahaan manufaktur lainnya.

NYSE mengadopsi skala Dow Jones Industrial Average (DJIA), atau lebih dikenal dengan Indeks Dow Jones. Nama tersebut diambil dari gabungan Charles Dow dan Edward Jones, dua reporter yang kemudian mendirikan perusahaan penerbitan Dow Jones & Company pada tahun 1882. Perusahaan tersebut menerbitkan surat kabar The Wallstreet Journal yang berfokus kepada isu-isu finansial dan mengamati dengan seksama pergerakan harga saham yang diperdagangkan di NYSE. Wallstreet Journal kemudian membentuk sebuah indeks yang terdiri atas 11 perusahaan kereta api, dan pada tahun 1896 diperluas menjadi rata-rata industri yang kemudian diadopsi oleh NYSE sebagai indeks rata-rata saham-saham papan atas.

NYSE bukanlah satu-satunya pasar modal di kota New York. Pada awal pengembangannya, aturan mengenai pendaftaran perusahaan pada NYSE sangat ketat, setiap perusahaan dikenai ongkos sebesar $25 agar bisa terdaftar di NYSE. Banyak pemilik perusahaan menengah yang hendak mengembangkan usahanya dengan menjual sebagian kepemilikan sahamnya kepada publik terbentur dengan aturan yang berlaku. Pada tahun 1842, sebagian broker mencoba memfasilitasi pasar perusahaan menengah tersebut dengan membentuk the New York Curb Exchange, yang kemudian berubah menjadi American Exchange (AMEX), namun hingga kini  julukan Curb Market tetap melekat kepada AMEX.  Perdagangan saham di Curb Market pada mulanya dilakukan di halaman gedung tempat NYSE berada. Hal tersebut tetap berlangsung hingga akhirnya AMEX menempati gedung baru di Trinity Place, New York pada tahun 1921.

Tahun 1920-an merupakan tahun tahun keemasan teknologi bagi sejarah Amerika, yang kemudian dikenal sebagai Roaring Twenties. Berbagai inovasi seperti radio, otomotif, penerbangan, telefon, dan pembangkit listrik mulai dikembangkan dan diterapkan secara luas di Amerika. Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Radio Corporation of America (RCA) dan General Motors menjadi pionir dalam pasar finansial Amerika, tidak ketinggalan perusahaan finansial yang menangani transaksi perdagangan dan investasi seperti the Goldman Sachs Trading Corporation turut menjadi motor penggerak perekonomian di Amerika.

Bank-bank di Amerika mencoba memanfaatkan hal tersebut dengan memberikan kredit sebanyak-banyaknya kepada perusahaan-perusahaan tanpa melakukan analisis terhadap kelayakan usaha. Struktur hutang yang timpang menggandakan resiko kebangkrutan perusahaan, namun hal tersebut tersamarkan dengan pertumbuhan ekonomi Amerika yang pesat. Pada tahun 1929, Adolf Miller, Presiden the Federal Reserve Board, mengeluarkan kebijakan uang ketat dan menaikkan suku bunga pinjaman secara agresif. Akibatnya banyak perusahaan yang memiliki struktur hutang yang buruk menjadi kesulitan dalam membayarkan kewajiban hutangnya. Hal tersebut diperparah dengan aksi profit taking yang dilakukan oleh para investor di sektor finansial. Berbagai pencetus tersebut kemudian menyebabkan krisis ekonomi terburuk yang pernah dialami oleh Amerika dan mengakibatkan depresi ekonomi yang berkepanjangan.

Hari Selasa, tanggal 29 Oktober 1929, tercatat sebagai hari terburuk dalam sejarah finansial bangsa Amerika, yang kemudian dikenal sebagai Black Tuesday. Krisis dimulai pada hari sebelumnya tanggal 28 Oktober, terjadi aksi profit taking besar-besaran yang menyebabkan Indeks Dow Jones turun menjadi 12.8%. Transaksi yang terlalu besar menyebabkan sistem pita penghitung (the ticker tape system) menjadi kelebihan beban dan rusak, padahal peranan pita penghitung tersebut amat vital sebab menjadi satu-satunya sumber informasi investor tentang harga saham terkini. Investor pun mencoba mencari informasi melalui telefon dan telegraf yang menyebabkan kelebihan kapasitas dari kedua jaringan tersebut. Praktis pada hari itu terjadi kebuntuan informasi yang membawa investor dalam kondisi kegamangan.

Keesokan harinya terjadi kekacauan di lantai bursa. Investor yang tidak mengetahui perkembangan informasi tentang pasar finansial, dan terdorong oleh resiko yang semakin besar akibat berlakunya sistem margin trading, berbondong-bondong menjual saham-saham yang mereka miliki. Dalam dua jam, nilai saham-saham papan atas turun hingga lebih dari separuhnya, dan dalam dua minggu Indeks Dow Jones turun hingga 40%. Amerika Serikat baru bisa keluar sepenuhnya dari krisis pada tahun 1932 setelah kehilangan sekitar 89% nilai saham-saham perusahaan publik dari puncak keemasannya.

Dalam rangka mengembalikan kepercayaan investor pada pasar modal, Kongres Senat Amerika Serikat mengeluarkan the Securities Act pada tahun 1933, yang mengatur perihal operasional dan sistem yang berlaku pada pasar modal. Dan pada tahun 1934, dibentuk Securities and Exchange Commission (SEC) yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang tersebut. SEC terdiri dari lima orang komisioner yang ditunjuk oleh Presiden Amerika Serikat dan disahkan oleh senat, Joseph P. Kennedy ditunjuk menjadi ketua komisi pertama SEC masa bakti 1934-1935.  Guna melindungi investor dari aksi kejahatan finansial, SEC mewajibkan setiap perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek untuk melaporkan keuangan perusahaan yang telah diaudit, serta mengawasi setiap peralihan kepemilikan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.

Tahun 1971 menandai babakan baru dalam sejarah pasar modal. National Association of Securities Dealers (NASD) memperkenalkan National Association of Securities Dealers Automated Quotation (NASDAQ) yang sepenuhnya menerapkan prinsip pasar modal elektronis untuk pertama kalinya. Semua data kepemilikan saham dan transaksi keuangan dikonversikan menjadi data-data elektronik yang disimpan dalam satu mainframe computer. Perdagangan saham tidak lagi dipusatkan dalam satu tempat, namun dapat dilakukan dari mana saja asalkan terhubung dengan sistem NASDAQ, suatu konsep yang istimewa mengingat pada saat itu koneksi internet belum lagi ada dan teknologi tidak secanggih sekarang. Sistem yang demikian dikenal dengan istilah over-the-counter (OTC). Saham-saham yang diperdagangkan oleh NASDAQ kebanyakan berupa saham-saham perusahaan teknologi seperti IBM, Microsoft, Intel, Cisco, dan lain sebagainya, oleh karena itu Indeks yang dipakai oleh NASDAQ sebagai patokan pergerakan saham-saham yang tergabung di dalamnya dikenal sebagai Indeks Teknologi NASDAQ. Saat ini NASDAQ bahkan telah mensponsori global stock market dengan membuka cabang di berbagai daerah di luar negeri, diantaranya Kanada dan Jepang, serta berasosiasi dengan pasar modal Hongkong dan Eropa.

SAHAM DAN KESEJAHTERAAN KARYAWAN

Sistem bagi hasil sebagai bentuk kompensasi kepada karyawan telah berlangsung sejak lama. Pada zaman feudalisme, para tuan tanah menyadari bahwa memperkerjakan budak untuk mengurus ladang dan perkebunan tidak ekonomis. Mereka tetap mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memelihara dan memberi makan budak-budak tersebut, namun disisi lain para budak tidak pernah menunjukkan antusiasme mereka dalam melakukan pekerjaan, sehingga produktivitas mereka rendah. Sistem perbudakan lalu dihapuskan, para tuan tanah lalu memperkerjakan buruh tani dan buruh ladang yang diupah dengan menggunakan sistem bagi hasil. Namun sistem ini dirasakan tetap tidak manusiawi karena proporsi yang didapatkan oleh para buruh tani tidak sebanding dengan proporsi yang diterima para tuan tanah tersebut, selain itu jumlah penghasilan yang diterima oleh para buruh tani tidak menentu sehingga menimbulkan ketidakpastian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pada zaman merkantilisme, sistem bagi hasil diganti menjadi sistem upah tetap (fix income) yang regulasinya diatur oleh pemerintah.

Walaupun sistem bagi hasil dianggap usang dan tidak manusiawi, tidak berarti sistem tersebut hilang begitu saja. Hingga zaman Revolusi Industri sistem ini masih diterapkan oleh perusahaan-perusahaan kecil dan perusahaan-perusahaan keluarga, tentu saja dengan proporsi yang lebih adil.  A. R. J. Turgot, seorang ahli ekonomi berkebangsaan Perancis, adalah salah seorang yang melihat keuntungan dari sistem bagi hasil ini. Pada tahun 1775 beliau menerapkan sistem bagi hasil dengan struktur proporsi yang lebih baik di perusahaan pengecatan rumah Maison Leclaire.  Sistem bagi hasil yang diterapkan pada perusahaan tersebut berbentuk tunai yang langsung dibayarkan kepada para pekerjanya. Perusahaan yang pertama kali memberlakukan sistem bagi hasil di Amerika Serikat adalah New Geneva, PA – sebuah perusahaan yang memproduksi barang pecah belah – yang dipimpin oleh Albert Gallatin pada tahun 1794. Sistem ini bejalan efektif dan terbukti mampu meningkatkan kinerja para pekerja perusahaan tersebut, namun belum banyak perusahaan yang terorganisir menerapkan sistem bagi hasil tersebut.

Ide tentang penerapan sistem bagi hasil kemudian digagas lagi oleh Chaler Babbage (1792-1871) melalui bukunya On the Economy of Machinery and Manufactures yang diterbitkan pada tahun 1832. Dalam buku tersebut Babbage menyatakan bahwa pekerja dan pemilik perusahaan harus memperoleh keuntungan mutual, oleh karena itu para pekerja harus menikmati sebagian keuntungan dari perusahaan melalui pemberian bonus kerja selain gaji yang telah mereka terima. Babbage mengklaim bahwa dengan menerapkan sistem tersebut baik pekerja maupun pemilik perusahaan akan memperoleh keuntungan karena setiap pekerja akan mempunyai rasa memiliki terhadap perusahaan, dan oleh karena itu mereka akan bekerja lebih baik dan mencegah setiap tindakan yang akan merugikan perusahaan agar bonus yang mereka terima meningkat. Selain itu tidak akan ada lagi konflik kepentingan antara pihak manajemen dan pekerja karena semuanya memiliki kepentingan yang sama.

Gagasan Babbage diterima oleh banyak pihak dan bahkan dikembangkan sehingga memiliki banyak variasi sistem insentif. Henry R. Towne menyarankan untuk memberikan insentif dengan sistem bagi hasil yang dibagikan secara proporsional per departemen, sementara Frederick A. Hasley lebih memilih untuk dibagikan secara proporsional menurut kinerja seseorang. Banyak perusahaan besar mulai menerapkan sistem bagi hasil melalui pemberian bonus kepada karyawannya, setidaknya terdapat 30 perusahaan besar yang menerapkan sistem ini termasuk  John Wannamaker Dry Goods, Pillsbury Flour, Yale and Towne, Proctor and Gamble (1887), Sears (1916), Kodak, dan Johnson’s Wax (1917).

Pada saat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat menggeliat pada tahun 1920-an, banyak pengusaha mengalihkan sistem insentif yang diberikan kepada karyawannya, dari berbentuk bagi hasil tunai menjadi sistem kepemilikan saham perusahaan melalui program employee stock ownership plans (ESOPs). Dengan memiliki sebagian saham perusahaan, para pekerja memperoleh tambahan penghasilan melalui dividen yang dibagikan setiap tahun, bahkan setelah mereka tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut. Selain itu mereka juga dapat menjual saham yang mereka miliki di pasar modal. Sistem ESOP ini juga disukai oleh para pemilik perusahaan karena, walaupun proporsi kepemilikan mereka berkurang, dengan menerapkan sistem ESOP perusahaan mendapatkan berbagai potongan dan keringanan pajak.

Namun peristiwa Black Tuesday yang diikuti depresi yang berkepanjangan membuat sistem ESOP ini gagal. Memiliki saham pada saat itu bagaikan memakan buah simalakama, banyak pemilik saham yang menyesal karena saham yang mereka miliki tidak lagi berharga, sementara bagi pemilik saham yang telah menjual saham mereka sebelum Black Tuesday juga tetap tidak merasakan manfaat dari hasil penjualan tersebut karena tergerus inflasi yang sangat tinggi dan sebagian hilang bersama bank-bank yang dilikuidasi. Akibatnya ESOP tidak lagi diminati, hasil survey pada tahun 1934 yang diselenggarakan oleh the National Industrial Conference Board menyebutkan bahwa 42 % perusahaan telah berhenti menggunakan sistem ESOP, pada tahun 1937 meningkat menjadi 69%, dan pada tahun 1939 hanya tersisa 37 perusahaan yang masih menerapkan sistem ESOP. Sistem ESOP kembali digunakan oleh perusahaan setelah ekonomi Amerika Serikat mulai pulih pada tahun 1940-an, dan menjadi trend pada tahun 1950-an.

Pada tahun 1974 Kongres Amerika Serikat meloloskan Employee Retirement Income Security Act (ERISA) yang mengatur tentang standar minimum untuk program pensiun bagi perusahaan swasta dan pengurangan pajak terkait dengan penerapan program kesejahteraan karyawan. ERISA-lah yang kemudian mendasari dikeluarkannya Internal Revenue Code (IRC) pada tahun 1978 yang merupakan prosedur standar sistem penetapan pajak oleh Internal Revenue Service (IRS). Pasal 401(k) adalah salah satu pasal dalam IRC yang terkenal, pasal tersebut mengatur tentang penyelenggaraan program pensiun yang layak bagi karyawan melalui sistem bagi hasil dan bonus saham. Dengan adanya insentif pajak tersebut, banyak perusahaan yang tertarik menerapkan program 401(k) dengan mengikutsertakan karyawannya dalam reksadana. Huges Air Craft Company adalah perusahaan pertama yang menerapkan program 401(k) pada tahun 1978, diikuti oleh Johnson & Johnson, FMC, PepsiCo, JC Penney, Honeywell, Savannah Foods & Industries, dan Coates, Herfurth, & England.

Dengan mengaplikasikan sistem bagi hasil, baik secara tunai maupun berbentuk bonus saham, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan karyawannya. Hingga saat ini, program ESOP maupun 401(k) masih tetap banyak digunakan perusahaan-perusahaan di Amerika. Tercatat lebih dari 12 juta karyawan ikut serta dalam program ESOP pada tahun 2005 dan sekitar 42,4 juta karyawan disertakan dalam program 401(k) pada akhir tahun 2003, beberapa bahkan mendiversifikasikan beberapa program melalui reksadana baik atas inisiatif pribadi maupun secara kolektif oleh perusahaan.

 

Perkembangan pasar modal di Indonesia

Di Indonesia melalui web Bursa Efek Indonesia dipaparkan sebagai berikut.

Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.

Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagimana mestinya.

Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:

  • 14 Desember 1912 : Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda.
  • 1914 – 1918 : Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I
  • 1925 – 1942 : Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya
  • Awal tahun 1939 : Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup.
  • 1942 – 1952 : Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II
  • 1952 : Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman (Lukman Wiradinata) dan Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan: Obligasi Pemerintah RI (1950)
  • 1956 : Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif.
  • 1956 – 1977 : Perdagangan di Bursa Efek vakum.
  • 10 Agustus 1977 : Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama.
  • 1977 – 1987 : Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal.
  • 1987 : Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.
  • 1988 – 1990 : Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat.
  • 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
  • Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
  • 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya.
  • 13 Juli 1992 : Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.
  • 22 Mei 1995 : Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).
  • 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang -Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996.
  • 1995 : Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.
  • 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia.
  • 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading).
  • 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Demikianlah penjelasan kami mengenai definisi sederhana mengenai saham, sejarah perkembangan saham di dunia dan Indonesia. Mari kita lanjutkan pembahasan kita lebih lanjut mengenai saham. Jangan keburu mengantuk yah, hehehe…..

 

Sumber : http://danoepraz.multiply.com/journal/item/7